Teori dan Ukuran Kemiskinan

Penyebab Kemiskinan
Sharp (1996) dalam Mudrajad Kuncoro (1997) mencoba mengidentifikasi penyebab kemiskinan dipandang dari sisi ekonomi:
1. Secara mikro, kemiskinan muncul karena adanya ketidaksamaan pola kepemilikan sumberdaya yang menimbulkan distribusi pendapatan yang timpang. Penduduk miskin hanya memiliki sumberdaya dalam jumlah terbatas dan kualitas yang rendah.
2. Kemiskinan muncul akibat perbedaan dalam kualitas sumberdaya manusia. Kualitas sumberdaya manusia yang rendah mengindikasikan produktifitas yang rendah, pada akhirnya berimplikasi pada upah yang rendah. Rendahnya kualitas sumberdaya manusia dikarenakan oleh rendahnya pendidikan, nasib yang kurang beruntung, adanya diskriminasi, dan keturunan.
3. Kemiskinan muncul diakibatkan perbedaan akses dalam modal
Baca: Definisi dan Penyebab Kemiskinan


Ketiga penyebab kemiskinan di atas bermuara pada teori lingkaran kemiskinan (vicious circle of poverty) oleh Ragnar Nurkse (1953) (dalam Jhingan, 2010).
Pengertian lingkaran kemiskinan adalah suatu lingkaran rangkaian yang saling mempengaruhi satu sama lain sedemikian rupa, sehingga menimbulkan suatu keadaan dimana negara akan tetap miskin dan akan banyak mengalami kesukaran untuk mencapai tingkat pembangunan yang lebih baik. 

Adanya keterbelakangan, ketidaksempornaan pasar, dan kurangnya modal menyebabkan rendahnya produktifitas. Rendahnya produktifitas mengakibatkan rendahnya pendapatan yang mereka terima. Rendahnya pendapatan akan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi, baik investasi manusia maupun investasi modal. Rendahnya investasi berakibat pada keterbelakangan dan seterusnya.

Menurut Nurkse ada dua lingkaran perangkap kemiskinan, yaitu dari sisi penawaran (supply) dimana tingkat pendapatan masyarakat yang rendah diakibatkan oleh tingkat produktivitas yang rendah menyebabkan kemampuan masyarakat untuk menabng rendah. Kemampuan untuk menabung yang rendah menyebabkan tingkat pembentukan modal rendah, tingkat pembentukan modal (investasi) yang rendah menyebabkan kekurangan modal, dan dengan demikian tingkat produktivitasnya juga rendah dan seterusnya. Dari sisi permintaan (demand), di negara-negara miskin kemampuan untuk menanam modal sangat rendah, hal ini dikarenakan luas pasar untuk berbagai jenis barang terbatas yang disebabkan oleh pendapatan masyarakat yang sangat rendah. Rendahnya pendapatan masyarakat dikarenakan tingkat produktivitasnya yang rendah, sebagai wujud dari tingkat pembentukan modal yang terbatas di masa lalu. Pembentukan modal yang terbatas disebabkan kurangnya perangsang untuk menanamkan modal dan seterusnya.

Lingkaran Kemiskinan (Vicious Circle Nurkse) (Jhingan, 2010)
Lingkaran Kemiskinan (Vicious Circle Nurkse) (Jhingan, 2010)

Indikator Kemiskinan 
Dalam mengukur tingkat kemiskinan di suatu wilayah, pada umumnya terdapat dua indikator yaitu tingkat kemiskinan absolut dan kemiskinan relatif. Mengukur kemiskinan dengan mengacu pada garis kemiskinan disebut kemiskinan absolut, sedang konsep kemiskinan yang pengukurannya tidak didasarkan pada garis kemiskinan disebut kemiskinan relatif (Tambunan, 2001).

1. Kemiskinan Absolut 
Kemiskinan absolut merupakan ketidakmampuan seseorang dengan pendapatan yang diperoleh untuk mencukupi kebutuhan dasar minimum yang diperlukan untuk hidup sehari-hari. Kebutuhan minimum tersebut diterjemahkan dalam ukuran finansial (uang). Nilai minimum tersebut digunakan sebagai batas garis kemiskinan. Garis kemiskinan ditetapkan pada tingkat konstan secara riil, sehingga dapat ditelusuri kemajuan yang diperoleh dalam menanggulangi kemiskinan pada level absolut sepanjang waktu.

Metode yang digunakan BPS dalam mengukur tingkat kemiskinan dengan menggunakan pendekatan pemenuhan kebutuhan dasar (basic needs approach). Dengan pendekatan ini dapat dihitung Headcount Index, yaitu persentase penduduk miskin terhadap total penduduk. Nilai garis kemiskinan yang digunakan mengacu pada kebutuhan minimum 2.100 kkal per kapita per hari ditambah dengan kebtuhan minimum non makanan yang merupakan kebutuhan dasar seseorang meliputi kebutuhan papan, sandang, sekolah, transportasi, serta kebutuhan rumah tangga dan individu yang mendasar lainnya.

Besarnya nilai pengeluaran (dalam rupiah) untuk memenuhi kebutuhan dasar tersebut disebut garis kemiskinan. Menurut BPS batas garis kemiskinan kota dan desa di Indonesia untuk tahun 2010 adalah 211.726 rupiah.

2. Kemiskinan Relatif 
Kemiskinan relatif ditentukan berdasar pada ketidakmampuan untuk mencapai standar hidup yang ditetapkan masyarakat setempat sehingga proses penentuannya sangat subyektif. Mereka yang berada di bawah standar penilaian tersebut dikategorikan sebagai miskin secara relatif. Kemiskinan relatif ini digunakan untuk mengukur ketimpangan distribusi pendapatan.

BKKBN menggunakan ukuran kemiskinan relatif ini dan mendefinisikannya dalam pengertian Pembangunan Keluarga Sejahtera yang terdiri atas keluarga pra sejahtera dan keluarga sejahtera I. Keluarga pra sejahtera adalah keluarga yang belum dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, seperti kebutuhan spiritual, pangan, sandang, papan, kesehatan, dan keluarga berencana.

Sedangkan keluarga sejahtera I adalah keluarga yang telah dapat memenuhi kebutuhan dasarnya secara minimal, tetapi belum dapat memenuhi kebutuhan sosial danpsikologis, kebutuhan pendidikan, interaksi dalam keluarga, interaksi dengan lingkungan tempat tinggal, dan transportasi.

Berdasarkan penelitian tentang kemiskinan nasional, May dkk (2005) menemukan percampuran antara tiga pendekatan yang lazim digunakan:
1. Kemiskinan yang dipahami sebagai ketidak mampuan untuk memperoleh standar minimal penghasilan yang tercermin oleh indikator kemiskinan yang dapat dihitung dan bersifat mutlak. Pengukuran kebutuhan diukur secara kuantitatif dan mengandalkan survei-survei tentang pendapatan dan konsumsi.

2. Kemiskinan yang dipahami sebagai kurangnya sumberdaya untuk memperoleh jenis diet atau gaya hidup yang dapat diterima secara sosial. Pendekatan ini menekankan pada indikator relatif yang bervariasi menurut standar masyarakat yang akan diukur, dan mungkin juga mempertimbangkan masalah distribusi. Pengukuran biasanya kuantitatif, walaupun pendekatan yang seringkali subyektif atau kualitatif mungkin memainkan peran dalam menetapkan definisi dan standar kemiskinan.

3. Kemiskinan yang dipahami sebagai ketidak mampuan untuk melakukan pilihan-pilihan, ketidak-mampuan untuk memenuhi kebutuhan, dan pengucilan sosial. Pengukurannya merupakan hal yang rumit, dan tidak ada pendekatan yang diterima secara umum yang digunakan walaupun lembaga seperti UNDP telah memulai meneliti metodologi alternatif. Teknik penelitian kualitatif dan partisipatif seringkali memainkan peranan inti.

 
 
--- --- ---
Sumber:
Nursetyo, Analisis Pengaruh Variabel Makroekonomi Regional Terhadap Tingkat Kemiskinan Perkotaan (Studi Kasus 44 Kota di Indonesia Tahun 2007-2010), Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Tahun 2013
--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.