Penyebab Kemiskinan (Kumpulan Teori)

Penyebab Kemiskinan Menurut Sharp
Sharp, dkk (dalam Prima Sukmaraga, 2011) mengidentifikasi penyebab kemiskinan dari sisi ekonomi. Pertama, secara mikro, kemiskinan muncul karena ketidaksmaan pola kepemilikan sumber daya sehingga distribusi pendapatan timpang. Kedua, kemiskinan karena perbedaan kualitas sumber daya manusia. Ketiga, kemiskinan akibat perbedaan akses modal. Ketiga penyebab kemiskinan ini bermuara pada teori lingkaran setan kemiskinan (vicious circle of poverty).

Penyebab Kemiskinan Menurut Ragnar Nurkse
Ragnar Nurkse (dalam Mudrajad Kuncoro, 2006) mengungkapkan bahwa adanya keterbelakangan, ketidaksempurnaan pasar, dan kurangnya modal menjadi penyebab produktivitas rendah sehingga pendapatan yang diterima juga rendah. Rendahnya pendapatan berimplikasi pada rendahnya tabungan dan investasi. Rendahnya tabungan dan investasi ini menyebabkan keterbelakangan. Begitu seterusnya.

Lingkaran Setan Kemiskinan Versi Nurkse:
Lingkaran Setan Kemiskinan Versi Nurkse (Mudrajat Kuncoro, 2006)
Lingkaran Setan Kemiskinan Versi Nurkse (Mudrajat Kuncoro, 2006)

Nurkse menjelaskan dua lingkaran perangkap kemiskinan dari segi penawaran (supply) dan permintaan (demand). Segi penawaran menjelaskan bahwa tingkat pendapatan masyarakat yang rendah akibat tingkat produktivitas rendah menyebabkan kemampuan masyarakat untuk menabung rendah. Rendahnya kemampuan menabung masyarakat menyebabkan tingkat pembentukan modal (investasi) yang rendah, sehingga terjadi kekurangan modal dan dengan demikian tingkat produktivitas juga akan rendah. Begitu seterusnya. Sedangkan dari segi permintaan menjelaskan di negara-negara yang miskin rangsangan untuk menanamkan modal sangat rendah karena keterbatasan luas pasar untuk berbagai jenis barang. Hal ini disebabkan pendapatan masyarakat yang sangat rendah karena tingkat produktivitasnya yang juga rendah, sebagai akibat dari tingkat pembentukan modal yang terbatas di masa lalu. Pembentukan modal yang terbatas ini disebabkan kekurangan rangsangan untuk menanamkan modal. Begitu seterusnya.


Penyebab Kemiskinan Menurut World Bank
World Bank (1993) dalam Policy Research Working Papers: Poverty and Policy menjelaskan sebab-sebab kemiskinan struktural, yang dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut :
1. Kurangnya demokrasi : hubungan kekuasaan yang menghilangkan kemampuan warga negara atau suatu negara untuk memutuskan masalah yang menjadi perhatian mereka,
2. Kurangnya memperoleh alat-alat produksi (lahan dan teknologi) dan sumber daya (pendidikan, kredit, dan akses pasar) oleh mayoritas penduduk,
3. Kurangnya mekanisme yang memadai untuk akumulasi dan distribusi,
4. Disintegrasi ekonomi nasional, yang berorientasi memenuhi pasar asing daripada pasar domestik,
5. Pengikisan peran pemerintah sebagai perantara dalam meminimalkan ketimpangan sosial, contohnya melalui swastanisasi program-program sosial,
6. Eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam dan tercemarnya ekosistem yang secara tidak proporsional berdampak kepada orang miskin, dan
7. Kebijakan-kebijakan yang menyebabkan monopolisasi ekonomi dan polarisasi masyarakat, yang memacu bertambahnya pemupukan pendapatan dan kesejahteraan..

Penyebab Kemiskinan Menurut Joseph E. Stiglitz dan Gerald M. Meier
Joseph E. Stiglitz dan Gerald M. Meier dalam Frontiers of Development Economics : The future in perspective (2001) menyatakan bahwa pemerintah mempunyai program-program pengurangan kemiskinan yang dibiayai dengan pajak langsung yang progresif. Namun, muncul kesulitan untuk membuat masyarakat patuh terhadap pajak menyebabkan pajak ini tidak terkumpul dan program penurunan kemiskinan gagal.

Penyebab Kemiskinan Menurut Ravi Kanbur dan Lyn Squire
Ravi Kanbur dan Lyn Squire (1999) menjelaskan bahwa kemiskinan terjadi karena dampak dari kebijakan pemerintah. Pemerintah yang pro-kemiskinan akan melakukan perbaikan di bidang kesehatan sehingga kesehatan akan meningkat, dan anak-anak sekolah akan bisa bersekolah dan menerima pelajaran dengan baik. Tingkat pendidikan membuat pekerja mempunyai skill yang selanjutnya membuat produktivitasnya meningkat dan pendapatannya meningkat. Produktivitas yang meningkat menyebabkan pertumbuhan ekonomi negara tersebut meningkat dan angka kemiskinan akan berkurang. Namun apabila pemerintah tidak pro-kemiskinan, maka kesejahteraan rakyat miskin tidak akan dipedulikan. Fasilitas kesehatan dan pendidikan hanya dapat dinikmati oleh pejabat tinggi dan orang-orang yang mempunyai uang. Di beberapa negara, pemerintah membuat kebijakan tanpa peduli dengan suara dan kepentingan masyarakat miskin. Mereka hanya memikirkan bagaimana memperkaya diri mereka sendiri.

Penyebab Kemiskinan Menurut Fareed Zakaria
Fareed Zakaria dalam bukunya The future of Freedom, Illiberal Democracy at Home and Abroad menyatakan bahwa alih-alih memperbaiki kesejahteraan, demokrasi justru membuat perekonomian dan kehidupan sosial-politik kian terpuruk. Penyebab utamanya, tekanan politik dalam demokrasi bukan merupakan sesuatu yang tulus untuk kepentingan publik atau netral. Demokrasi merupakan representasi kepentingan kelompok atau instrumen elite politik untuk mendelegitimasi lawan politik yang sedang menjadi pemerintah. Dalam proses interaksi tersebut, kepentingan kaum miskin tersingkirkan walaupun sering dijadikan selubung isu sebenarnya. Beberapa teori meyakini bahwa demokrasi memperkuat akuntabilitas dan transparansi tata kelola pemerintah yang selanjutnya akan berfaedah mengurangi kemiskinan. Akan tetapi, teori tersebut tidak menemukan implementasi memadai dalam praktik demokrasi di Indonesia pascareformasi tahun 1998 (T. Mustasya, 2007).

Penyebab Kemiskinan Menurut Eric Chetwynd
Eric Chetwynd, Frances Chetwynd, dan Bertram Spector (2003) menjelaskan bahwa korupsi dapat memperburuk kemiskinan. Tingginya korupsi di suatu daerah menyebabkan para investor enggan untuk berinvestasi di daerah tersebut. Rendahnya investasi mengakibatkan pertumbuhan ekonomi daerah tersebut akan terhambat serta dapat meningkatkan ketimpangan pendapatan. Hal ini menyebabkan kondisi kemiskinan daerah tersebut akan semakin buruk.


Sumber:
Septiana, (2012). Analisis Hubungan Ipm, Kapasitas Fiskal, Dan Korupsi Terhadap Kemiskinan Di Indonesia. Skripsi S1, Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Tahun 2012.
--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.