Teori dan Fungsi Produksi

Menurut Sadono Sukirno (2000), pengertian fungsi produksi adalah berkaitan antara faktor-faktor produksi dan capaian tingkat produksi yang dihasilkan, dimana faktor produksi sering disebut dengan istilah input dan jumlah produksi disebut dengan output. Sedangkan Salvatore (1997) mendefinisikan produksi sebagai hasil akhir dari proses atau aktivitas ekonomi dengan memanfaatkan beberapa masukan atau input atau dengan kata lain mengkombinasikan berbagai input atau masukan untuk menghasilkan output.

Menurut Epp dan Malone (1981) definisi fungsi produksi adalah suatu fungsi atau persamaan yang menunjukkan hubungan fisik atau teknis antara faktor-faktor yang dipergunakan dengan jumlah produk yang dihasilkan per satuan waktu, tanpa memperhatikan harga, baik harga faktor-faktor produksi maupun harga produk.
Menurut Sadono Sukirno (2000), fungsi produksi secara matematis dapat digambarkan sebagai berikut: 

Q = f ( K, L, R, T ) 
Dimana :
K = Jumlah stok modal atau persediaan modal
L = Jumlah tenaga kerja ( yang meliputi jenis tenaga kerja )
T = Tingkat teknologi yang digunakan
R = Biaya sewa lahan
Q = Jumlah produksi yang dihasilkan (Sukirno, 2005).  
Dari persamaan di atas dijelaskan bahwa jumlah output tergantung dari kombinasi penggunaan modal, tenaga kerja, dan bahan mentah. Semakin tepat kombinasi input, semakin besar kemungkinan output dapat diproduksi secara maksimal. Salvatore (1995) menjelaskan fungsi produksi yaitu menunjukkan jumlah maksimum komoditi yang dapat diproduksi per unit waktu setiap kombinasi input alternatif, bila menggunakan teknik produksi terbaik yang tersedia.

Perkembangan atau pertambahan produksi dalam kegiatan ekonomi tidak lepas dari peranan faktor-faktor produksi atau input. Untuk menaikkan jumlah output yang diproduksi dalam perekonomian dengan faktor-faktor produksi, para ahli teori pertumbuhan neoklasik menggunakan konsep produksi (Denberg, 1992; Dornbusch dan Fischer,1997).

Menurut Soekartawi (1990), pengertian fungsi produksi adalah hubungan fisik antara variabel yang dijelaskan (Y) dan variabel yang menjelaskan (X), secara matematis dapat ditulis sebagai berikut :

Q = f (X1, X2, X3 ... Xn) 
Dimana :
Q = tingkat produksi
X1... Xn = faktor-faktor produksi

Persamaan tersebut menjelaskan bahwa hubungan X dan Y dapat diketahui dan sekaligus hubungan Xi, Xn dan X lainnya juga dapat diketahui. Penggunaan dari berbagai macam faktor-faktor tersebut diusahakan untuk menghasilkan atau memberikan hasil maksimal dalam jumlah tertentu.

Menurut Soedarsono (1998) definisi fungsi produksi adalah hubungan teknis yang menghubungkan antara faktor produksi (input) dan hasil produksi (output). Disebut faktor produksi karena bersifat mutlak. Supaya produksi dapat dijalankan untuk menghasilkan produk. Suatu fungsi produksi yang efisien secara teknis dalam arti menggunakan kuantitas bahan mentah yang minimal, dan barang-barang modal lain yang minimal.

Secara matematis, bentuk persamaan fungsi produksi dikemukakan oleh (Dernberg, 1992; Dornbusch dan Fischer, 1997) adalah sebagai berikut :

Y = Af ( K, L ) 
Dimana :
A = teknologi atau indeks perubahan teknis
K = input kapasitas atau modal
L = input tenaga kerja

Menurut Dernberg (1992) karakteristik dari fungsi produksi tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Produksi mengikuti pendapatan pada skala yang konstan (Constant Return to Scale), artinya apabila input digandakan maka output akan berlipat dua kali. 
  2. Produksi marjinal, dari masing-masing input atau faktor produksi bersifat positif tetapi menurun dengan ditambahkannya satu faktor produksi pada faktor lainnya yang tetap atau dengan kata lain tunduk pada hukum hasil yang menurun (The Law of Diminishing Return). 



Tahapan Dari Suatu Proses Produksi, Boediono (1997) 
Tahapan Dari Suatu Proses Produksi, Boediono (1997)



The Law of Diminishing Return (hukum kenaikan hasil berkurang) yang berarti jika penggunaan satu input ditambah sedang input-input lain tetap maka tambahan output yang dihasilkan dari setiap tambahan satu unit input yang ditambahkan tadi mula-mula naik tetapi kemudian seterusnya menurun jika input tersebut terus ditambahkan (Epp dan Malone, 1981). Secara grafis penambahan faktor-faktor produksi yang digunakan dapat dijelaskan dalam gambar Fungsi Produksi berikut.

Hubungan antara ketiga kurva tersebut adalah sebagai berikut :

  • Penggunaan input (X) pada sampai tingkat dimana TPP (Total Physical Product) cekung ke atas (0 sampai A), maka MPP (Marginal Physical Product) menaik, demikian pula APP (Average Physical Product). 
  • Pada tingkat penggunaan input (X) yang menghasilkan TPP yang menaik dan cembung ke atas (antara A sampai C), MPP menurun. 
  • Pada tingkat penggunaan input (X) yang menghasilkan TPP yang menurun, maka MPP negatif. Pada tingkat penggunaan input X dimana garis singgung pada TPP persis melalui titik origin B, maka MPP = APP maksimum. Sebagian seorang produsen yang rasional akan berproduksi pada tahap ini (Boediono, 1997) . 


Menurut Adiningsih (dalam Sigit L, 2005), fungsi produksi menunjukkan berapa banyak jumlah maksimum output yang dapat diproduksi apabila sejumlah input tertentu digunakan dalam proses produksi. Jadi fungsi produksi adalah suatu fungsi yang menunjukkan hubungan antara tingkat output dan tingkat penggunaan input dan karena fungsi ini hanya menunjukkan hubungan fisik antara input dan output maka dapat dituliskan sebagai berikut :


Y max = f ( input ) 
Y max = f (X1, X2, X3 ... Xn) 
Dimana Xn adalah jumlah input yang digunakan oleh setiap jenis input.  

Penggunaan kata maksimum pada tingkat output yang dihasilkan disini hanya ingin menekankan bahwa produsen hanya akan berproduksi pada kombinasi input yang efisien. Hal ini dapat dijelaskan dengan menggunakan himpunan produksi (production set), sebagaimana gambar berikut ini :

Fungsi Produksi (Sri Adiningsih, 2003)
Fungsi Produksi (Sri Adiningsih, 2003)

Dari gambar diatas dapat dilihat bahwa dengan penggunaan input sebesar 0X1, output maksimum yang dapat dihasilkan adalah 0Y2 , yaitu tepat pada fungsi produksi Y = f (X). Sedangkan produksi di titik A adalah layak dilaksanakan namun belum efisien. Oleh karena itu produsen yang rasional tidak akan memilih berproduksi di titik A.


Sumber:
Septi P, (2012). Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Produksi Tembakau Rakyat (Studi Kasus Desa Tegalroso Kecamatan Parakan Kabupaten Temanggung). Skripsi S1, Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Tahun 2012+

--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.
--- --- --- ---
Kamus Ekonomi:
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |