Pengeluaran Pemerintah di Bidang Pendidikan

Dalam bukunya yang berjudul “Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga” Todaro (1993, h.336-337) menyebutkan bahwa sumber daya manusia dari suatu bangsa akan menentukan karakter dan kecepatan dari pembangunan sosial dan ekonomi bangsa itu, dan bukan modal fisik ataupun sumber daya material. 
Mekanisme kelembagaan yang pokok dalam mengembangkan keahlian dan pengetahuan manusia adalah sistem pendidikan formal. Banyak negara-negara Dunia Ketiga telah digiring dan mempercayai bahwa perluasan kesempatan memperoleh pendidikan yang cepat secara kuantitatif merupakan kunci utama menuju pembangunan nasional, semakin bertambah pendidikan, semakin cepat pembangunan.

Todaro (1993, h.339) juga menyebutkan bahwa di banyak negara berkembang, pendidikan formal adalah “industri” dan konsumen terbesar dalam menggunakan anggaran pemerintah. 
Bangsa-bangsa yang miskin telah menginvestasikan sejumlah uang yang sangat besar dalam bidang pendidikan. Alasannya bermacam-macam. Petani yang “melek huruf” yang sekurang-kurangnya mengenyam pendidikan dasar dianggap akan lebih produktif dan lebih tanggap dalam menerima teknologi pertanian baru dibandingkan dengan petani-petani yang buta huruf.
Tenaga-tenaga ahli dan mekanik yang dilatih secara khusus dan dapat membaca dan menulis dianggap lebih mudah menyesuaikan diri dengan produk-produk dan material-material baru yang terus berubah. Tamatan sekolah menengah pertama dengan sedikit pengetahuan di bidang hitung menghitung dan keahlian administrasi dan teknis dari organisasi-organisasi swasta dan pemerintah dan juga diperlukan untuk menggantikan orang-orang asing. Tamatan universitas dengan latihan yang lebih maju diperlukan untuk mengisi kebutuhan terhadap keahlian managerial yang profesional dalam organisasiorganisasi modern milik swasta dan pemerintah.
Selain kebutuhan terhadap “perencanaan tenaga kerja” tersebut, masyarakat sendiri, baik kaya maupun miskin, telah melakukan tekanan-tekanan politis yang sangat hebat bagi penyediaan dan perluasan sekolah di negara-negara berkembang. 
Para orang tua semakin menyadari bahwa dalam zaman dimana tenaga kerja ahli sangat langka, semakin tinggi pendidikan dan semakin banyak sertifikat yang dimiliki anak-anak mereka, semakin baik pula kesempatan mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang berpendapatan tinggi dan hidup yang terjamin. Bagi golongan miskin, pendidikan dianggap sebagai jalan satu-satunya untuk mengangkat anak-anak mereka dari kemisikinan.



Sumber:
Permana  A., (2012). Benefit Incidence Analysis Terhadap Bantuan Operasional Sekolah Untuk SMP Swasta di Kota Semarang. Skripsi S1, Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Tahun 2012

--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.
--- --- --- ---
Kamus Ekonomi:
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |