Kalimantan Menuju Metropolitan
“Ketika Covid-19 ini menunjukan tanda berakhir atau dikendalikan, kita bisa melakukan pembangunan dengan protokol keamanan, maka ibu kota negara bisa jadi peluang untuk menjadi prime mover bukan hanya Indonesia, tapi juga pemilik modal seluruh Indonesia.”

Kalimantan Menuju Metropolitan
Pernyataan itu disampaikan Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Suharso Monoarfa ketika berkunjung ke kantor Harian Bisnis Indonesia, Kamis (13/7).
“Ketika Covid-19 ini menunjukan tanda berakhir atau dikendalikan, kita bisa melakukan pembangunan dengan protokol keamanan, maka ibu kota negara bisa jadi peluang untuk menjadi prime mover bukan hanya Indonesia, tapi juga pemilik modal seluruh Indonesia.”Menurut Suharso, proyek ibu kota negara di Kalimantan yang telah diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada Agustus 2019, masih dalam tahap pengerjaan master plan.
Satu yang menjadi bagian dari penyusunan master plan adalah pembangunan infrastruktur dasar di kawasan ibu kota negara nantinya.
Kendati proyek ibu kota negara masih tertunda akibat pandemi Covid-19, pembangunan infrastruktur dasar seperti jalan, infrastruktur kelistrikan, jaringan air, jaringan telekomunikasi, jaringan distribusi minyak dan gas, serta kelengkapan lainnya, bakal tetap menjadi perhatian utama.
Bagaimana pun, infrastruktur dasar merupakan kebutuhan utama, terlepas dari ada tidaknya proyek ibu kota negara di wilayah Kalimantan.
“Kita masih tahap mengerjakan master plan, kalau master plan sudah selesai, kita dorong detail plannya, Teman-teman masih menyusun infrastruktur dasar,” kata Suharso.
Menurutnya, pengembangan infrastruktur di Kalimantan nantinya menjadi satu bagian dari pengembangan 10 kota metropolitan di Tanah Air mulai dari Palembang, Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Manado, Makassar, hingga Denpasar.
Terkait dengan pengembangan infrastruktur, khususnya sektor vital bidang energi seperti minyak dan gas (migas), perusahaan pelat merah PT Pertamina (Persero) terus memperkuat infrastuktur d Kalimantan.
Menurut Vice President Communication PT Pertamina (Persero) Fajriyah Usman, Pertamina mengelola beberapa infrastruktur penting di sektor energi mulai dari hulu hingga hilir yang memiliki kontribusi optimal bagi ketahanan energi nasional.
Dia menuturkan infrastruktur itu di antaranya kilang refinery unit (RU) V Balikpapan, 10 terminal bahan bakar minyak (TBBM), 9 depot pengisian pesawat udara (DPPU), 3 terminal depot LPG serta beberapa infrastruktur lainnya yang dikelola oleh anak perusahaan Pertamina pada bidang usaha eksplorasi dan produksi migas hingga bidang usaha downstream.
Selain mengelola infrastruktur itu, katanya Pertamina juga menjalankan beberapa proyek strategis meliputi pengoperasian Blok Mahakam yang merupakan blok gas terbesar di Indonesia, proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) RU V Balikpapan, pembangunan fuel terminal Tanjung Batu Balikpapan, fuel terminal Palaran Samarinda, dan fuel terminal Pulau Laut, serta proyek jaringan gas Balikpapan—Samarinda.
Proyek RDMP RU V Balikpapan dibangun sejak 10 Desember 2018 dengan nilai investasi tidak kurang dari US$6,5 miliar. Proyek ini ditargetkan selesai pada Juli 2023.
Selain itu, ada pula proyek engineering, procurement, dan construction (EPC) Lawe-Lawe, yang berlokasi di Kabupaten Penajam Paser Utara. Penajam Paser Utara menjadi salah satu bagian dari lokasi ibu kota baru.
Proyek di daerah itu mencakup pembangunan unit baru Submarine Pipeline (SPL), Single Point Mooring (SPM), dan tangki minyak mentah. Tujuan Proyek EPC Lawe-Lawe dengan nilai investasi US$278 juta adalah menambah fasilitas offsite dan utilitas serta unloading offshore pada Terminal Lawe-Lawe guna mendukung keberadaan RDMP Balikpapan.
Fajriyah menyatakan dukungan Pertamina di proyek ibu kota bar uterus berjalan dengan melakukan identifikasi bisnis dan infrastruktur Pertamina Group yang dapat dikembangkan untuk mendukung program tersebut.
“Dengan adanya kondisi pandemi Covid-19 saat ini, Pertamina melakukan langkah-langkah penyesuaian, dengan memfokuskan dalam penyusunan kajian dan perencanaan. Diharapkan saat kondisi sudah recovery pada masa yang akan datang, dan program pemerintah dijalankan di lapangan, Pertamina dapat siap untuk secara simultan melakukan penyiapan infrastruktur pendukungnya,” katanya.
Upaya memperkuat infrastruktur di Kalimantan dilakukan juga oleh PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN)
Menurut Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama, saat ini perseroan telah membangun infrastruktur gas pipa maupun non pipa di wilayah Kalimantan.
Untuk jaringan gas rumah tangga (jargas), PGN telah membangun sebanyak 25.802 saluran rumah tangga (SR) di Kalimantan.
Adapun perinciannya adalah Kabupaten Kutai Kartanegara 3.500 SR, Kota Samarinda 5.503 SR, Kota Balikpapan 6.953 SR, Kota Penajam Paser Utara 4.762 SR,Kota Tarakan 5.084 SR.
"PGN siap mendukung program pemerintah dalam menyediakan kebutuhan gas bumi dikawasan IKN," katanya.
Sementara itu, PGN memiliki infrastruktur pipa gas melalui entitasnya yakni PT Pertamina Gas (Pertagas).
Pertagas infrastruktur pipa transmisi sepanjang sepanjang 65,7 km yang membentang dari Bontang hingga Kabupaten Kutai Timur.
Infrastruktur itu digunakan untuk memenuhi pasokan pelanggan industri seperti PT Pupuk Kaltim, PT Kaltim Methanol Indonesia, PT PTMG Kanaan, dan PT Kaltim Parma Indonesia dengan volume rata-rata 350 mmscfd.
Direktur Utama Pertagas Wiko Migantoro menuturkan selain infrastruktur tersebut, perseroan memiliki infrastruktur pipa jargas yang berada di Samarinda, Bontang, Balikpapan, dan Penajam Paser Utara.
Total jaringan jargas yang dimiliki Pertagas yakni sebanyak 33.209 SR dengan perincian Kota Samarinda 4.500 SR, Kota Bnntang 11.960 SR, Kota Bulungan 3.300 SR, Kota Balikpapan 8.949 SR, dan Penajam Paser 4.500 SR.
Wiko mengungkapkan pada tahun depan pihaknya akan membangun jaringan pipa transmisi dari Senipah hingga ke Balikpapan sepanjang 70 km untuk mendukung ibu kota negara baru.
Sumber:
Asteria Desi & Muhammad Ridwan
Senin, 03/08/2020 02:00 WIB
https://koran.bisnis.com/
Post a Comment for "Kalimantan Menuju Metropolitan"