Pembangunan IKN Momentum Kebangkitan Ekonomi di Bumi Etam
Keputusan pemerintah untuk memindahkan ibu kota pemerintahan dari DKI Jakarta ke Kalimantan Timur, bisa menjadi momentum bagi kebangkutan ekonomi di Bumi Etam. Penataan infrastruktur di Penajam Paser Utara dan sebagian Kutai Kartanegara terus dilakukan.

Pembangunan IKN Momentum Kebangkitan Ekonomi di Bumi Etam
Setelah ekonomi di wilayah Kalimantan Timur (Kaltim) sempat lesu pada 2015, pemindahan Ibu Kota Negara (IKN) diharapkan memberikan dampak positif.
Ekonomi Kaltim yang selama ini digerakan oleh pemanfaatan sumber daya alam, seperti tambang dan mineral, boleh jadi bakal bergeser. Seperti halnya peran ibu kota lainnya, sektor jasa dan niaga memiliki peluang tumbuh lebih cepat.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) dari sektor penggalian dan pertambangan di wilayah Kaltim pada 2019 mencapai 45,49%. Lalu disusul industri pengolahan dengan kontribusi 17,77%. Di luar dua itu, sektor lainnya berkontribusi di bawah 10%. (Lihat ilustrasi)
Kalau pun ada sektor yang memiliki kontribusi PDRB mendekati 10% yakni sektor konstruksi. Dalam 3 tahun terakhir, kontribusi konstruksi meningkat. Hal itu setidaknya mengonfirmasi pembangunan infrastruktur di wilayah Kaltim memang tengah bergeliat.
Harian Bisnis Indonesia berkesempatan melihat langsung pembangunan infrastruktur di Kalimantan melalui program Jelajah Infrastruktur Kalimantan 2020. Program itu bekerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), PT Telekomunikasi Selular, PT Pertamina (Persero), PT Jasa Marga (Persero) Tbk., PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk., dan PT Waskita Beton Precast Tbk.
Sepanjang kegiatan itu berlangsung, keberadaan infrastruktur menjadi kebutuhan vital dalam proses pembangunan IKN ke depan karena banyak kebutuhan yang harus dibangun, mulai dari gedung pemerintahaan hingga konektivitasnya.
Wakil Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud mengatakan bahwa proyek IKN nantinya jangan sampai melupakan semangat awal yakni melakukan pemerataan dan mengurangi kesenjangan sosial dan kesenjangan antarkawasan.
Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat perlu dilibatkan, termasuk dari sisi penyerapan sumber daya manusia (SDM) lokal. Jika tidak, yang dikhawatirkan Rahmad adalah terjadi konflik horizontal.
Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Kaltim, Heru Cahyono menjelaskan bahwa penetapan IKN menjadi asa baru dalam dunia arsitektur. Ekonomi Bumi Etam yang sempat minus 5 tahun lalu tidak dapat dipungkiri memberi efek domino.
Hal pertama yang dilakukan setelah ditetapkannya IKN baginya adalah sektor konstruksi. Proyek-proyek diprediksi bakal melimpah.
Heru memberi catatan, pelaku konstruksi lokal harus dilibatkan dan jangan sampai hanya menjadi ‘penonton’ atas megaproyek itu.
Menurutnya, banyak cara bisa dilakukan salah satunya menjadikan pengusaha lokal ini sebagai subkontraktor. Contoh lainnya yakni badan usaha dengan skala nasional bisa melakukan kerja sama atau operasional gabungan.
Dia mengaku sudah berkomunikasi dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait dengan idenya tersebut. Bukan itu saja, dia bahkan merencanakan agar ada peraturan presiden (perpres) terkait pemanfaatan tenaga lokal.
Payung hukum tersebut bukan tanpa landasan awal. Percepatan pembangunan Bandara Kulonprogo memiliki landasan setingkat itu. Begitu pula dengan percepatan pembangunan Papua.
Selama 4 hari perjalanan Jelajah Infrastruktur Kalimantan 2020 dari 10—13 Agustus 2020, tim melihat langsung sejumlah proyek yang tengah digarap di Kalimantan.
Hari pertama tim jelajah melihat pembangunan refinery development masterplan (RDMP) refinery unit (RU) V PT Pertamina (Persero) yang terletak di Balikpapan.
Berdasarkan data pemerintah Balikpapan, proyek tersebut telah menyerap 4.583 tenaga kerja hingga Juli lalu. Pada puncak pengerjaannya, pembangunan yang dikejar selesai pada 2023 ini akan menyerap 15.000 tenaga kerja.
Hari kedua tim bergeser ke pabrik Waskita Precast yang terletak di seberang Balikpapan, atau tepatnya Buluminung, Penajam Paser Utara.
Dari situ, tim kembali ke untuk menjajal tol Balikpapan—Samarinda. Sebelum ada jalur bebas hambatan, perjalanan memakan waktu 180 menit. Kini, bisa terpotong menjadi 75 menit.
Waktu berganti. Di hari ketiga tim jelajah mengunjungi pembangkit listrik tenaga uap serta pembangkit listrik tenaga gas dan uap di Tenggarong.
Hari terakhir bergeser ke lokasi yang bakal menjadi ibu kota yang baru. Lokasi itu berjarak sekitar 60 Km dari Balikpapan, kondisi jalan tidak begitu bagus.
Lokasi IKN itu tidak jauh dari tempat wisata di Bukit Bangkirai yang berlokasi di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Bukit Bangkirai adalah kawasan wisata alam yang dikelola oleh PT Inhutani I Unit I Balikpapan. Meski namanya bukit, namun kawasan ini sebenarnya adalah hutan hujan tropis.
Kawasan Bukit Bangkirai memiliki luas mencapai 1.500 hektare. Di sini, bisa menemukan ribuan jenis flora dan fauna, termasuk pohon bangkirai itu sendiri.
Meski merupakan hutan hujan tropis, Bukit Bangkirai ternyata punya fasilitas yang cukup lengkap. Mulai dari penginapan berbentuk cottage, jungle cabin, restoran, kamar mandi, hingga kolam renang bisa ditemukan di sini.
Tempat ini ialah salah satu destinasi wisata alam yang ada di seputaran wilayah IKN yang baru di Kaltim. Bukit Bangkirai juga tak melulu menjelajah hutan dan melihat aneka flora serta fauna saja.
Jika ditempuh dengan perjalanan darat, wisatawan akan memakan waktu sekitar 1,5 jam dari kota Balikpapan.
Keberadaan sektor pendukung diharapkan nantinya benar-benar mampu menopang keberadaan ibu kota negara.
Kepala Biro Infrastruktur dan Sumber Daya Alam Kaltim Lisa Hasliana menyatakan proyek infrastruktur di Kaltim terus berjalan.
Dia menuturkan, sektor industri energi nantinya akan diarahkan untuk mendukung pemenuhan yang ada di kawasan IKN yang baru di Kaltim.
Lalu, untuk mendukung kebutuhan air bersih, pemerintah pusat juga telah melakukan persiapan. Yaitu pembangunan beberapa Bendungan dan Bendung di beberapa lokasi di sekitar.
Untuk kebutuhan daya listrik, telah ada pengembangan dari PLN. Saat ini sedang berproses. "Nanti bisa dukung IKN. Itu sedang berlangsung"
Sumber:
Pembangunan Ibu Kota Negara, Ruang Tumbuh Bagi Sektor Baru
Tim Jelajah Infrastruktur
Selasa, 25/08/2020 02:00 WIB
https://koran.bisnis.com/

Pembangunan IKN Momentum Kebangkitan Ekonomi di Bumi Etam
Ekonomi Kaltim yang selama ini digerakan oleh pemanfaatan sumber daya alam, seperti tambang dan mineral, boleh jadi bakal bergeser. Seperti halnya peran ibu kota lainnya, sektor jasa dan niaga memiliki peluang tumbuh lebih cepat.
Mengutip data Badan Pusat Statistik (BPS), kontribusi produk domestik regional bruto (PDRB) dari sektor penggalian dan pertambangan di wilayah Kaltim pada 2019 mencapai 45,49%. Lalu disusul industri pengolahan dengan kontribusi 17,77%. Di luar dua itu, sektor lainnya berkontribusi di bawah 10%. (Lihat ilustrasi)
Kalau pun ada sektor yang memiliki kontribusi PDRB mendekati 10% yakni sektor konstruksi. Dalam 3 tahun terakhir, kontribusi konstruksi meningkat. Hal itu setidaknya mengonfirmasi pembangunan infrastruktur di wilayah Kaltim memang tengah bergeliat.
Harian Bisnis Indonesia berkesempatan melihat langsung pembangunan infrastruktur di Kalimantan melalui program Jelajah Infrastruktur Kalimantan 2020. Program itu bekerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero), PT Telekomunikasi Selular, PT Pertamina (Persero), PT Jasa Marga (Persero) Tbk., PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk., dan PT Waskita Beton Precast Tbk.
Sepanjang kegiatan itu berlangsung, keberadaan infrastruktur menjadi kebutuhan vital dalam proses pembangunan IKN ke depan karena banyak kebutuhan yang harus dibangun, mulai dari gedung pemerintahaan hingga konektivitasnya.
Wakil Wali Kota Balikpapan Rahmad Mas’ud mengatakan bahwa proyek IKN nantinya jangan sampai melupakan semangat awal yakni melakukan pemerataan dan mengurangi kesenjangan sosial dan kesenjangan antarkawasan.
Oleh karena itu, seluruh elemen masyarakat perlu dilibatkan, termasuk dari sisi penyerapan sumber daya manusia (SDM) lokal. Jika tidak, yang dikhawatirkan Rahmad adalah terjadi konflik horizontal.
“Kita harapkan pemerintah Kaltim dan saya sebagai Wakil Wali Kota Balikpapan bisa menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, yang bisa diunggulkan, dan membantu pekerja juga menarik investor di Kaltim,” katanya.
Ketua Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi (LPJK) Kaltim, Heru Cahyono menjelaskan bahwa penetapan IKN menjadi asa baru dalam dunia arsitektur. Ekonomi Bumi Etam yang sempat minus 5 tahun lalu tidak dapat dipungkiri memberi efek domino.
Hal pertama yang dilakukan setelah ditetapkannya IKN baginya adalah sektor konstruksi. Proyek-proyek diprediksi bakal melimpah.
Heru memberi catatan, pelaku konstruksi lokal harus dilibatkan dan jangan sampai hanya menjadi ‘penonton’ atas megaproyek itu.
Menurutnya, banyak cara bisa dilakukan salah satunya menjadikan pengusaha lokal ini sebagai subkontraktor. Contoh lainnya yakni badan usaha dengan skala nasional bisa melakukan kerja sama atau operasional gabungan.
Dia mengaku sudah berkomunikasi dengan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terkait dengan idenya tersebut. Bukan itu saja, dia bahkan merencanakan agar ada peraturan presiden (perpres) terkait pemanfaatan tenaga lokal.
Payung hukum tersebut bukan tanpa landasan awal. Percepatan pembangunan Bandara Kulonprogo memiliki landasan setingkat itu. Begitu pula dengan percepatan pembangunan Papua.
“Kenapa kami memperjuangkan perpres? Ini kelasnya IKN kok. Jadi bukan hanya perda saja yang menjadi landasan hukum,” jelasnya.
Selama 4 hari perjalanan Jelajah Infrastruktur Kalimantan 2020 dari 10—13 Agustus 2020, tim melihat langsung sejumlah proyek yang tengah digarap di Kalimantan.
Hari pertama tim jelajah melihat pembangunan refinery development masterplan (RDMP) refinery unit (RU) V PT Pertamina (Persero) yang terletak di Balikpapan.
Berdasarkan data pemerintah Balikpapan, proyek tersebut telah menyerap 4.583 tenaga kerja hingga Juli lalu. Pada puncak pengerjaannya, pembangunan yang dikejar selesai pada 2023 ini akan menyerap 15.000 tenaga kerja.
Hari kedua tim bergeser ke pabrik Waskita Precast yang terletak di seberang Balikpapan, atau tepatnya Buluminung, Penajam Paser Utara.
Dari situ, tim kembali ke untuk menjajal tol Balikpapan—Samarinda. Sebelum ada jalur bebas hambatan, perjalanan memakan waktu 180 menit. Kini, bisa terpotong menjadi 75 menit.
Waktu berganti. Di hari ketiga tim jelajah mengunjungi pembangkit listrik tenaga uap serta pembangkit listrik tenaga gas dan uap di Tenggarong.
Hari terakhir bergeser ke lokasi yang bakal menjadi ibu kota yang baru. Lokasi itu berjarak sekitar 60 Km dari Balikpapan, kondisi jalan tidak begitu bagus.
Lokasi IKN itu tidak jauh dari tempat wisata di Bukit Bangkirai yang berlokasi di Kecamatan Samboja, Kutai Kartanegara. Bukit Bangkirai adalah kawasan wisata alam yang dikelola oleh PT Inhutani I Unit I Balikpapan. Meski namanya bukit, namun kawasan ini sebenarnya adalah hutan hujan tropis.
Kawasan Bukit Bangkirai memiliki luas mencapai 1.500 hektare. Di sini, bisa menemukan ribuan jenis flora dan fauna, termasuk pohon bangkirai itu sendiri.
Meski merupakan hutan hujan tropis, Bukit Bangkirai ternyata punya fasilitas yang cukup lengkap. Mulai dari penginapan berbentuk cottage, jungle cabin, restoran, kamar mandi, hingga kolam renang bisa ditemukan di sini.
Tempat ini ialah salah satu destinasi wisata alam yang ada di seputaran wilayah IKN yang baru di Kaltim. Bukit Bangkirai juga tak melulu menjelajah hutan dan melihat aneka flora serta fauna saja.
Jika ditempuh dengan perjalanan darat, wisatawan akan memakan waktu sekitar 1,5 jam dari kota Balikpapan.
Keberadaan sektor pendukung diharapkan nantinya benar-benar mampu menopang keberadaan ibu kota negara.
Kepala Biro Infrastruktur dan Sumber Daya Alam Kaltim Lisa Hasliana menyatakan proyek infrastruktur di Kaltim terus berjalan.
Dia menuturkan, sektor industri energi nantinya akan diarahkan untuk mendukung pemenuhan yang ada di kawasan IKN yang baru di Kaltim.
"Untuk semua terlibat dalam pembanguna di situ dari kawasn industri bisa dimanfatkan untuk pemenuhi IKN," katanya.
Lalu, untuk mendukung kebutuhan air bersih, pemerintah pusat juga telah melakukan persiapan. Yaitu pembangunan beberapa Bendungan dan Bendung di beberapa lokasi di sekitar.
"Pendukung seperti air bersih, ada embung Sepaku-Semoi. ada juga bendungan lain yang akan direncanakan," tegas Lisa.
Untuk kebutuhan daya listrik, telah ada pengembangan dari PLN. Saat ini sedang berproses. "Nanti bisa dukung IKN. Itu sedang berlangsung"
Sumber:
Pembangunan Ibu Kota Negara, Ruang Tumbuh Bagi Sektor Baru
Tim Jelajah Infrastruktur
Selasa, 25/08/2020 02:00 WIB
https://koran.bisnis.com/
Post a Comment for "Pembangunan IKN Momentum Kebangkitan Ekonomi di Bumi Etam"