Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Definisi Inflasi dan Metode Penghitungan Inflasi

Definisi Inflasi

Grafik Tingkat Inflasi di Suatu Wilayah
Grafik Tingkat Inflasi di Suatu Wilayah
Boediono (1996) mendefinisikan inflasi sebagai kecenderungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus-menerus. Inflasi juga diartikan sebagai suatu keadaan yang mengindikasikan semakin melemahnya daya beli yang diikuti dengan semakin merosotnya nilai riil (intrinsik) mata uang suatu negara (Khalwaty, 2000). Inflasi dalam perekonomian disatu sisi selalu menjadi hal yang relatif menakutkan, karena inflasi dapat melemahkan daya beli dan dapat melumpuhkan kemampuan produksi yang mengarah pada krisis produksi dan konsumsi. Akan tetapi, disisi lain ketiadaan inflasi menandakan tidak adanya pergerakan positif dalam perekonomiankarena relatif harga-harga tidak berubah dan kondisi ini dapat melemahkan sektor industri.

Jenis-Jenis Inflasi
Sehubungan dengan kompleksnya faktor yang menjadi sumber terjadinya inflasi atau banyaknya variabel yang berpengaruh terhadap inflasi, maka dapat pula dilakukan pengelompokan terhadap macam-macam inflasi berdasar berbagai sudut pandang, menurut Samuelson (1992) dan Khalwaty (2000):

1) Berdasarkan Bobotnya: 
a) Creeping Inflation 
Inflasi ringan adalah inflasi dengan laju pertumbuhan yang berlangsung secara perlahan dan berada pada posisi satu digit atau dibawah 10% per tahun.
b) Moderate Inflation 
Inflasi sedang ialah inflasi dengan aju tingkat pertumbuhan berada diantara 10-30% per tahun atau melebihi dua digit dan sangat mengancam struktur dan pertumbuhan ekonomi di suatu negara.
c) Galloping Inflation 
Inflasi pada tingkat ini terjadi pada tingkatan 30% sampai dengan 100% per tahun. Dalam kondisi seperti ini orang hanya memegang uang sejumlah yang diperlukan saja dan lebih cenderung menyimpan kekayaannya dalam bentuk aset riil.
d) Hyper Inflation 
Inflasi yang sangat berat ialah inflasi dengan laju pertumbuhan melampaui 100% per tahun.

2) Berdasarkan Penyebabnya 
a) Natural Inflation dan Hman Error Inflation 
Natural inflation adalah jenis inflasi yang terjadi karena pengaruh alamiah dimana manusia tidak memiliki kekuasaan untuk mencegahnya, sedangkan Human Error Inflation adalah jenis inflasi yang terjadi karena kesalahan yang dilakukan oleh manusia sendiri.

b) Expected Inflation dan Unexpected Inflation 
Pada Expected Inflation tingkat suku bunga pinjaman riil akan sama dengan tingkat suku bunga pinjaman nominal dikurangi inflasi, sedangkan pada Unexpected Inflation suku bunga pinjaman nominal merefleksikan kompensasi terhadap efek inflasi.

c) Demand Pull dan Cost Push Inflation 
Demand pull inflation diakibatkan oleh perubahan-perubahan yang terjadi pada sisi permintaan agregatif dari barang dan jasa pada suatu perekonomian, ada kecenderungan GDP riil naik besama dengan kenaikan harga umum. Cost push inflation adalah inflasi yang tejadi karena adanya perubahan-perubahan pada sisi penawaran agregatif dan dari barang dan jasa pada suatu perekonomian, umumnya kenaikan harga dibarengi dengan penurunan omzet penjualan.


Gambar Cost Push Inflation dan Demand Pull Inflation
Gambar Cost Push Inflation dan Demand Pull Inflation

d) Spiralling Inflation 
Inflasi jenis ini adalah inflasi yang diakibatkan oleh infasi yang terjadi sebelumnya, yang mana inflasi sebelumnya itu terjadi sebagai akibat dari inflasi yang terjadi sebeumnya lagi dan begitu seterusnya.

e) Imported Inflation dan Domestic Inflation 
Imported inflation bisa dikatakan adalah inflasi di negara lain yang ikut dialami oleh suatu negara karena harus menjadi price taker dalam pasar perdagangan internasional. Domestic inflation dapat dikatakan sebagai inflasi yang hanya terjadi di dalam negeri suatu negara, yang tidak begitu mempengaruhi negara-negara lainnya.

Penyebab Timbulya Inflasi
Terdapat babarapa teori yang berkembang dalam menjelaskan penyebab timbulnya inflasi, yaitu:
1) Teori Kuantitas 
Teori ini menekankan pada peranan jumlah uang beredar dan harapan (ekspektasi) masyarakat mengenai kenaikan harga terhadap timbulnya inflasi. Inti dari teori ini adalah: (1) Inflasi hanya bisa terjadi jika terdapat penambahan volume uang beredar, baik uang kartal maupun giral, (2) Laju inflasi juga ditentukan oleh laju pertambahan jumlah uang beredar dan oleh harapan (ekspektasi) masyarakat mengenai kenaikan harga di masa mendatang.

2) Keynesian Model 
Dasar pemikiran model inflasi dari Keynes ini, bahwa inflasi terjadi karena masyarakat ingin hidup diluar batas kemampuan ekonominya, sehingga menyebabkan permintaan efektif masyarakat terhadap barang-barang (permintaan agregat) melebihi jumlah barangbarang yang tersedia (penawaran agregat), akibatnya akan terjadi inflationary gap. Keterbatasan jumlah persediaan barang ini terjadi karena dalam jangka pendek kapasitas produksi tidak dapat dikembangkan untuk mengimbangi kenaikan permintaan agregat. Oleh karenannya sama seperti pandangan kaum moneteris, Keynesian model ini lebih banyak dipakai untuk menerangkan fenomena inflasi dalam jangka pendek.

Khalwaty (2000) mengatakan bahwa laju pertumbuhan inflasi harus selalu diwaspadai dan dikendalikan karena:

  • Inflasi berdampak luas terhadap berbagai sektor kehidupan, sehingga perlu dicermati terutama oleh para praktisi ekonomi dan bisnis. 
  • Inflasi yang tinggi mempunyai pengaruh agregatif terhadap perekonomian makro sevagai faktor eksternal dunia industri serta berdampak luas pula terhadap sektor perekonomian mikro yang merupakan faktor internal dunia bisnis. 
  • Industri yang berorientasi ekspor akan semakin kurang kompetitif di pasar bahkan di pasar nasional bila infasi tinggi. Biaya faktor industri semakin mahal hingga menimbulkan ekonomi biaya tinggi. 
  • Kemerosotan produksi baik yang berorientasi pada ekspormaupun pasaran domestik akan meningkatkan laju pertumbuhan angka pengangguran yang sangat berbahaya bagi stabilisasi perekonomian negara 
  • Inflasi yang tinggi akan melemahkan daya beli masyarakat terutama terhadap produksi dalam negeri yang selanjutnya dapat mengurangi kepercayaan masyarakat terhadap nilai mata uang nasional. 
  • Inflasi yang tinggi akan semakin menumbuh suburkan korupsi, manipulasi dan kolusi di kalangan elit pemerintahan dengan kalangan konglomerat yang membuat kepercayaan terhadap pemerintah merosot. 
  • Inflasi yang tinggi akan mendorong pemodal nasional untuk menanamkan modalnya ke luar negeri dan bahkan pengusaha menglokasikan industri ke luar negeri yang perekonomiannya lebih stabil. 


Badan Pusat Statistik Indonesia, menggunakan salah satu metode dalam pengukuran tingkat inflasi ialah dengan IHK (Indeks Harga Konsumen). IHK merupakan salah satu indikator ekonomi yang memberikan informasi mengenai harga barang dan jasa yang dibayar oleh konsumen. Perhitungan IHK dilakukan untuk merekam perubahan harga beli di tingkat konsumen (purchasing cost) dari sekelompok tetap barang dan jasa (fixed basket) yang pada umumnya dikonsumsi masyarakat. Mulai Juni 2008 hingga saat ini, data IHK mencakup 66 kota di seluruh Indonesia meliputi 774 komoditas barang dan jasa (284 – 441 komoditas barang dan jasa per kota).

Metode Penghitungan Inflasi 
Teknis kompilasi yang dipergunakan dalam perhitungan IHK adalah:
1. IHK dihitung menggunakan metode Modified Laspeyres dengan rumus:

Perhitungan IHK dengan Metode Modified Laspeyres
Perhitungan IHK dengan Metode Modified Laspeyres



2. Persentase perubahan IHK secara tahunan (year on year) bulan ke-n dihitung dengan metode point-to-point dengan dasar IHK bulan yang sama tahun sebelumnya (t-1), dengan rumus:

Persentase Perubahan IHK dengan Metode Point-to-Point
Persentase Perubahan IHK dengan Metode Point-to-Point


--- --- ---
Sumber:
Nursetyo, Analisis Pengaruh Variabel Makroekonomi Regional Terhadap Tingkat Kemiskinan Perkotaan (Studi Kasus 44 Kota di Indonesia Tahun 2007-2010), Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Tahun 2013

Post a Comment for "Definisi Inflasi dan Metode Penghitungan Inflasi "