Pariwisata dan Permintaan Pariwisata

Definisi Pariwisata 
Definisi pariwisata secara luas adalah perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain, bersifat sementara, dilakukan perorangan maupun kelompok, sebagai usaha untuk mencari keseimbangan dan kebahagiaan dengan lingkungan hidup dalam dimensi sosial, budaya, alam dan ilmu. 
James J. Spillane (1987) mengatakan bahwa pariwisata adalah kegiatan melakukan perjalanan dengan tujuan mendapatkan kenikmatan, mencari kepuasan, mengetahui sesuatu, memperbaiki kesehatan, menikmati olahraga atau istirahat, menunaikan tugas, dan lain-lain. Lain halnya dengan Donald E. Lundberg et al (1995) yang menyatakan bahwa pariwisata adalah konsep yang dapat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Pariwisata adalah kegiatan dimana orang terlibat dalam perjalanan jauh dari tempat tinggal terutama untuk bisnis atau kesenangan. Pariwisata adalah bisnis dimana menyediakan barang dan jasa untuk wisatawan dan melibatkan setiap pengeluaran yang dikeluarkan oleh atau untuk pengunjung untuk perjalanannya.

Pariwisata merupakan komoditas yang dibutuhkan oleh setiap individu karena aktivitas berwisata bagi seorang individu dapat meningkatkan daya kreatif, menghilangkan kejenuhan kerja, relaksasi, berbelanja, bisnis, mengetahui peninggalan bersejarah, kesehatan, dan pariwisata spiritulisme, seiring dengan meningkatnya waktu luang sebagai akibat lebih singkatnya hari kerja dan didukung oleh meningkatnya penghasilan, maka aktivitas kepariwisataan akan semakin meningkat (Wiyasa, 1997).

Permintaan Pariwisata 
Konsumen mempunyai tingkah laku yang beragam dalam memenuhi kebutuhannya terhadap barang dan jasa (goods and services). Yoeti (2008) mengungkapkan terdapat tiga tingkah laku konsumen (consumer behaviour) dalam memenuhi kebutuhan terhadap barang dan jasa, yaitu:

  1. Keterbatasan pendapatan (income) 
  2. Melakukan pembelian dengan bertindak secara rasional 
  3. Ingin mencapai kepuasan (to maximize their total satisfaction) 


Permintaan pariwisata berpengaruh terhadap semua sektor perekonomian : perorangan (individu), Usaha Kecil Menengah, Perusahaan Swasta, dan Sektor Pemerintah (Sinclair dan Stabler, 1997). Data vital yang dapat dijadikan indikator permintaan wisatawan akan suatu daerah wisata adalah : 

  1. Jumlah atau kuantitas wisatawan yang datang. 
  2. Alat transportasi apa yang digunakan sehubungan dengan kedatangan wisatawan tersebut. 
  3. Berapa lama waktu tinggal. 
  4. Berapa jumlah uang yang dikeluarkan. 


Permintaan pariwisata juga didasarkan pada anggaran belanja yang dimilikinya, hal ini merupakan kunci dari permintaan pariwisata. Seseorang akan mempertimbangkan untuk mengurangi anggaran yang dimilikinya untuk suatu kepentingan liburan. Sementara itu kegiatan liburan atau pariwisata ini merupakan suatu aktivitas yang dapat menciptakan permintaan karena kegiatan wisata yang dilakukan oleh wisatawan dengan sendirinya akan memerlukan pelayanan seperti transportasi akomodasi, catering, restoran, hiburan, dan pelayanan lainnya.

Dalam kondisi ekstrim, seseorang dapat mengalokasikan seluruh anggarannya untuk berpariwisata dan pada selain itu juga dapat digunakan seluruhnya untuk mengkonsumsi barang lain. Kombinasi pariwisata dan barang lain yang diputuskan untuk dibeli seseorang tergantung pada preferensi mereka.

Kombinasi alternatif antara pariwisata dan barang lain dapat memberikan tingkat kepuasan yang sama kepada konsumen, misalnya, konsumsi yang rendah terhadap pariwisata dan konsumsi yang tinggi terhadap barang lain memberikan kepuasan yang sama seperti konsumsi pariwisata yang tinggi dan konsumsi barang lain yang rendah, seperti diilustrasikan oleh kurva indiferen pada gambar Konsumsi Pariwisata dan Barang Lainnya. Seluruh kemungkinan kombinasi digambarkan sepanjang garis budget line, yaitu kemiringan yang menunjukkan harga relatif dari barang dan jasa dan yang digambarkan oleh TG. Seseorang dapat mengalokasikan anggarannya antara untuk pariwisata dan barang lainnya dengan memilih kombinasi yang memaksimalkan kepuasan. Pada D, dimana kurva indiferen bersinggungan dengan budget line, menghasilkan tingkat pariwisata OT1 dan konsumsi OG1 dari barang lain. Seseorang dengan preferensi yang lebih kuat terhadap pariwisata akan mengambil kombinasi sebelah kiri titik D, sedangkan seseorang yang lebih banyak mengkonsumsi barang lain akan memiliki kurva indiferen yang bersinggungan dengan TG ke arah kanan titik D (Sinclair dan Stabler, 1997).

Konsumsi Pariwisata dan Barang Lainnya:
Konsumsi Pariwisata dan Barang Lainnya (Sinclair & Stabler, 1997)
Konsumsi Pariwisata dan Barang Lainnya (Sinclair & Stabler, 1997)

Orang harus memutuskan tidak hanya kombinasi yang paling disukai antara pariwisata (relative) terhadap barang lain, namun juga kombinasi yang paling disukai antara berbagai jenis pariwisata. Sebagai contoh, seorang wisatawan dapat membelanjakan seluruh anggaran berwisatanya untuk berkunjung ke teman atau seluruhnya digunakan untuk berlibur di lokasi baru, ke luar negeri, atau dapat pula memilih berbagai kombinasi dari keduanya. Posisi optimal pada akhirnya tergantung pada anggaran dan preferensi seseorang serta diasumsikan bahwa anggaran dialokasikan antara jenis-jenis pariwisata yang berbeda agar memaksimalkan kepuasan.

Fungsi permintaan pariwisata dapat dituliskan sebagai berikut:
Fungsi Permintaan Pariwisata

Dimana D adalah permintaan pariwisata X1 ... Xn adalah sebagai variabel independen yang berkedudukan sebagai faktor yang mempengaruhi permintaan. Untuk mengidentifikasikan maka diperlukan faktor-faktor eksternal dan internal untuk melihat dan menganalisis strategi yang tepat pada pengembangan kawasan obyek wisata dengan tujuan meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan.


Sumber:
Dolina Gitapati, (2012). Analisis Kunjungan Wisatawan Objek Wisata Nglimut Kecamatan Limbangan Kabupaten Kendal. Skripsi S1, Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Tahun 2012
--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.