Teori Pertumbuhan Neo-Klasik (Robert Solow dan Trevor Swan)

Teori pertumbuhan ekonomi Neo-Klasik berkembang sejak tahun 1950- an. Teori ini berkembang berdasarkan analisis-analisis mengenai pertumbuhan ekonomi menurut pandangan ekonomi klasik. Ekonom yang menjadi perintis dalam mengembangkan teori tersebut adalah Robert Solow dan Trevor Swan. Teori ini menyebutkan bahwa:
Pertumbuhan ekonomi bergantung pada pertumbuhan faktor-faktor produksi (jumlah penduduk, tenaga kerja, akumulasi kapital) dan tingkat kemajuan teknologi. 
Model pertumbuhan Solow menunjukkan bagaimana tabungan, pertumbuhan angkatan kerja, dan kemajuan teknologi mempengaruhi output perekonomian serta pertumbuhannya sepanjang waktu.
Analisis model pertumbuhan Solow dibagi menjadi tiga tahap analisis, yaitu: (1) dengan asumsi angkatan kerja dan teknologi tetap, (2) dengan asumsi hanya teknologi tetap, dan (3) angkatan kerja dan teknologi berubah.

Menurut Neo-Klasik tingkat bunga dan tingkat pendapatan menentukan tingginya tingkat tabungan.
Pada tingkat teknik tertentu, tingkat bunga akan menentukan tingginya tingkat investasi. Jika tingkat bunga rendah, maka investasi akan tinggi, dan demikian pula sebaliknya apabila tingkat bunga tinggi, maka investasi akan rendah. Sebagai akibat adanya investasi yang bertambah maka tingkat bunga naik yang pada gilirannya akan menaikkan jumlah tabungan. Apabila permintaan terhadap investasi berkurang maka tingkat bunga turun dan harga barang- barang kapital kembali turun, hasrat menabung turun. Pada tingkat perkembangan ini, akumulasi modal berakhir, dan perekonomian statis atau tidak mengalami perkembangan (Suryana, 2000).
Berbeda dengan pandangan klasik, bahwa pertumbuhan ekonomi akan macet karena terbatasnya sumber- sumber alam. Neoklasik yakin dengan kemajuan- kemajuan teknik dan perbaikan kualitas buruh cenderung meningkat pendapatan yang lebih tinggi sehingga permintaan masyarakat akan meningkat dan seterusnya (Suryana, 2000). 

Ada 4 (empat) anggapan yang melandasi model Neo-Klasik (Boediono, 1999) :

  1. Tenaga kerja (atau penduduk), L, tumbuh dengan laju tertentu, misal per tahun.
  2. Adanya fungsi produksi Q = ƒ (K, L) yang berlaku bagi setiap periode.
  3. Adanya kecenderungan menabung (propensity to save) oleh masyarakat yang dinyatakan sebagai proporsi (s) tertentu dan output (Q). Tabungan masyarakat S = sQ, bila Q naik S juga naik, dan turun bila Q turun.
  4. Semua tabungan masyarakat diinvestasikan S = I =ΔK. Dalam model Neo-Klasik tidak lagi dipermasalahkan mengenai keseimbangan S dan I.

Model pertumbuhan Neo-Klasik Solow (Solow neoclassical growth model), yang tertuang dalam “A Contribution to The Economic Growth”, merupakan pilar yang sangat memberi kontribusi terhadap teori pertumbuhan ekonomi neoklasik, sehingga penggagasnya, Robert Solow dianugerahi hadiah di bidang nobel ekonomi. Dalam bentuknya yang lebih formal, model pertumbuhan neoklasik Solow memakai fungsi produksi agregat standar, yakni:

Y= TKtαLt1-α ­­
dimana Y adalah output, K adalah modal, L adalah tenaga kerja dan T adalah teknologi. Karena tingkat kemajuan teknologi (total factor productivity) ditentukan dengan eksogen, model neoklasik Solow terkadang juga disebut model pertumbuhan eksogen (exogeneous growth model). Usaha untuk memperbaiki kekurangan model Solow, dinyatakan denhan memecahkan total factor productivity dengan memasukkan variabel lain, dimana variabel ini dapat menjelaskan pertumbuhan yang terjadi. Model pertumbuhan yang demikian disebut model pertumbuhan endogen (endogeneous growth model).
Model pertumbuhan endogen menganggap bahwa perdagangan internasional penting sebagai faktor yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dalam model ini perdagangan internasional diukur melalui aktivitas ekspor dan impor, yaitu:

Y= F (Ai, Ki, Li)
dimana Y adalah output, A adalah indeks produktivitas, K adalah modal, L adalah tenaga kerja, i adalah tahun, sedang indeks produktivitas (A) adalah fungsi dari ekspor (X) dan impor (M), yakni:

Ai= F(Xi, Mi)

Terdapat beberapa studi yang dilakukan untuk menyempurnakan model pertumbuhan ekonomi neoklasik dengan tujuan untuk memperjelas dan menambahkan dasar- dasar teoritis bagi sumber- sumber pertumbuhan ekonomi, salah satunya dilakukan oleh tiga ekonom yakni Mankiw, Romer, dan Weil (dalam Esa Suryaningrum A., 2000) yang menyatakan bahwa model pertumbuhan Solow hanya mampu menerangkan hubungan modal dan tenaga kerja saja, namun bukan besarnya (magnitude) hubungan tersebut sehingga dimasukkan variabel mutu modal manusia untuk membantu menjelaskan pola pertumbuhan ekonomi selain modal dan tenaga kerja, yaitu:

Y= TKtαLtβH1-α-β
dimana Y adalah atau output, K adalah modal, L adalah tenag kerja dan T adalah teknologi dan H adalah modal manusia.

Menurut teori pertumbuhan Solow- Swan, secara garis besar proses pertumbuhan mirip dengan teori Harrod- Domar, dimana asumsi yang melandasi model ini yaitu:

  1. Tenaga kerja (atau penduduk) tumbuh dengan laju tertentu, misalnya P per tahun.
  2. Adanya fungsi produksi Q = f (K,L) yang berlaku bagi setiap periode.
  3. Adanya kecenderungan menabung oleh masyarakat yang dinyatakan sebagai proporsi (s) tertentu dari output (Q). Tabungan masyarakat S = sQ; bila Q naik S juga naik, dan sebaliknya.
  4. Semua tabungan masyarakat di investasikan S = I = ΔK.
Sesuai dengan anggapan mengenai kecenderungan menabung, maka dari output disisakan sejumlah proporsi untuk di tabung dan kemudian di investasikan. Dengan begitu, maka terjadi penambahan stok kapital (Boediono, 1999).

Menurut Solow, penawaran dan permintaan berperan penting dalam menentukan output suatu perekonomian. Oleh karena itu, komponen utama dari teori pertumbuhan Solow adalah fungsi produksi yang merupakan dasar dari penawaran dan fungsi konsumsi yang merupakan dasar dari permintaan.

Ciri-ciri posisi keseimbangan teori pertumbuhan Neo-Klasik yaitu :

  1. Menurut Solow, posisi keseimbangan jangka panjang (Long run equilibrium) akan tercapai apabila kapital per kapita, k, mencapai suatu tingkat yang stabil, artinya tidak berubah lagi nilainya. Apabila k konstan, maka keseimbangan jangka panjang tercapai. Hal ini merupakan ciri posisi keseimbangan yang pertama (Boediono, 1999).
  2. Ciri yang kedua adalah mengenai laju pertumbuhan output, kapital dan tenaga kerja. Pada posisi long run equilibrium laju pertumbuhan output bisa disimpulkan dari ciri bahwa output per kapita adalah konstan dan penduduk tumbuh (p) sesuai dengan asumsi. Definisi output per kapita adalah output total tumbuh dengan laju jumlah penduduk per tahun (Boediono, 1999).
  3. Ciri yang ketiga adalah mengenai stabilitas dari posisi keseimbangan tersebut. Posisi keseimbangan model Solow-Swan bersifat stabil, dalam arti bahwa apabila kebetulan perekonomian tidak pada posisi keseimbangan, maka akan ada kekuatan-kekuatan yang cenderung membawa kembali perekonomian tersebut pada posisi keseimbangan jangka panjang (Boediono, 1999).
  4. Ciri yang keempat menyangkut tingkat konsumsi dan tingkat tabungan (investasi). Tingkat tabungan (investasi) per kapita pada posisi keseimbangan adalah konstan. Apa yang tidak ditabung dikonsumsikan, sehingga konsumsi per kapita juga konstan pada posisi equilibrium (Boediono, 1999).
  5. Ciri yang kelima berkaitan dengan imbalan yang diterima oleh masing-masing faktor produksi atau aspek distribusi pendapatan. Karena hanya ada dua macam faktor produksi (kapital dan tenaga kerja), maka output total akan habis terbagi antara para pemilik kapital dan pemilik faktor produksi tenaga kerja (Boediono, 1999).



Sumber: Wahyu, (2012). Analisis Pengaruh Aglomerasi, Tenaga Kerja, Jumlah Penduduk, Dan Modal Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten Kendal. Skripsi S1, Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Tahun 2012

--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.
--- --- --- ---
Kamus Ekonomi:
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |