Teori Kebijakan Dividen

Manajemen mempunyai 2 alternatif perlakuan terhadap penghasilan bersih setelah pajak ( EAT ) perusahaan yaitu :

  1. Dibagi kepada para pemegang saham perusahaan dalam bentuk dividen
  2. Diinvestasikan kembali ke perusahaan sebagai laba ditahan.


Pada umumnya sebagian penghasilan bersih setelah pajak (EAT) dibagi dalam bentuk dividen dan sebagian lagi diinvestasikan kembali, artinya manajemen harus membuat keputusan tentang besarnya EAT yang dibagikan sebagai dividen. Pembuat keputusan tentang dividen ini disebut dengan kebijakan dividen ( dividen policy ).

Ada beberapa teori mengenai kebijakan dividen ini yang dikemukan oleh para peneliti sebelumnya, antara lain :

  1. Teori Clientele Effect,
  2. Teori The Bird in the Hand,
  3. Teori Perbedaan Pajak.
A. Teori Clientele Effect
Teori ini menyatakan bahwa kelompok ( clientele ) pemegang saham yang berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda terhadap kebijakan dividen perusahaan. Kelompok pemegang saham yang membutuhkan penghasilan pada saat ini lebih menyukai suatu Dividend payout Ratio yang tinggi. Sebaliknya kelompok pemegang saham yang tidak begitu membutuhkan uang saat ini lebih senang jika perusahaan menahan sebagian besar laba bersih perusahaan.

Jika ada perbedaan pajak bagi individu ( misalnya orang lanut usia dikenai pajak lebih ringan ) maka pemegang saham yang dikenai pajak tinggi lebih menyukai capital gains karena dapat menunda pembayaran pajak. Kelompok ini lebih senang jika perusahaan membagi dividen yang kecil. Sebalinya kelompok pemegang saham yang dikenai pajak relatif rendah cenderung menyukai dividen yang besar.

B. Teori The Bird in the Hand
Kepercayaan bahwa kebijakan dividen perusahaan itu kurang penting, secara mutlak diasumsikan bahwa investor memerlukan tingkat pengembalian penghasilan yang sama apakah berasal dari dividen atau capital gain. bagaimanapun, dividen lebih bisa diprediksi daripada capital gain; manajemen bisa mengontrol dividen tetapi tidak bisa mendikte harga saham. investor kurang percaya untuk mendapatkan penghasilan yang berasal dari capital gain daripada dividen. risiko tambahan yang berhubungan dengan capital gain ralatif terhadap penghasilan dividen jauh lebih tinggi. sehingga dibutuhkan suku bunga untuk diskon dari sebuah keuntungan modal daripada diskon dari dividen. dengan kata lain, kita akan mengharapkan penghasilan lebih tinggi dari dividen daripada mengharapkan penghasilan dari capital gain. Pandangan ini, yang mana dikatakan dividen lebih bisa dipercaya daripada capital gain.+

C. Teori Perbedaan Pajak
Teori ini diajukan oleh Litzenberger dan Ramaswamy. Mereka menyatakan bahwa karena adanya pajak terhadap keuntungan dividen dan capital gains, para investor lebih menyukai capital gains karena dapat menunda pembayaran pajak. Oleh karena itu investor mensyaratkan suatu tingkat keuntungan yang lebih tinggi pada saham yang memberikan dividend yield tinggi, capital gains yield rendah dari pada saham dengan dividend yield rendah, capital gains yield tinggi. Jika pajak atas dividend lebih besar dari pajak atas capital gains, perbedaan ini akan makin terasa.

Berdasarkan teori diatas mempunyai caranya sendiri-sendiri tergantung manajemen perusahaan menganut teori yang mana. Jika manajemen menganut teori The Bird in the Hand, mereka harus membagi seluruh EAT (Earning After Tax) dalam bentuk dividen. Jika manajemen cenderung mempercayai teori perbedaan pajak (Tax Differential Theory), mereka harus menahan seluruh EAT atau DPR = 0%.


Sumber:
Triawan D., (2012). Penggalian Potensi PPH Atas Dividen Sebagai Upaya Peningkatan Penerimaan Pajak Di KPP Madya Semarang. Skripsi S1, Program Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Tahun 2012.

--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.
--- --- --- ---
Kamus Ekonomi:
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |