Peranan Hukum Dalam Pembangunan Ekonomi


PENGANTAR
Adalah bukan hal yang asing untuk hampir semua warganegara Indonesia mendengar kata-kata “masyarakat adil dan makmur” -istilah yang begitu sering dan mudah ditemukan- yang tidak lain adalah tujuan akhir bernegara. Dilatarbelakangi cita-cita ini, maka pembangunan telah dipilih sebagai satu-satunya kendaraan yang dianggap paling tepat untuk membawa bangsa Indonesia menuju kearah sana. Dalam hal ini, pemerintah RI sejak tiga dasawarsa terakhir telah menjadikan pembangunan di bidang ekonomi sebagai tulang punggung pembangunan nasional, yang buah hasilnya sudah dapat kita lihat bersama.

Yang menjadi pertanyaan mendasar kemudian adalah bagaimanakah posisi hukum di dalam derap roda pembangunan yang berputar demikian pesat? Pada tataran ide normatif, di GBHN, hukum secara tegas diletakkan sebagai pendorong pembangunan, khususnya terhadap pertumbuhan ekonomi. Berdasarkan amanat ini, maka hukum tentu sangat memerlukan dukungan yang terdiri dari personalia yang profesional dan beretika, organisasi yang kapabel dan berdaya guna, serta peradilan yang bebas dan berhasil guna. Semuanya ini adalah sebagian prasyarat konsepsional yang paling di butuhkan dalam konteks kekinian Indonesia.

Prinsip Dasar Pembangunan Ekonomi Daerah

Setiap daerah mempunyai corak pertumbuhan ekonomi yang berbeda dengan daerah lain. Oleh sebab itu perencanaan pembangunan ekonomi suatu daerah pertama-tama perlu mengenali karakter ekonomi, sosial dan fisik daerah itu sendiri, termasuk interaksinya dengan daerah lain. Dengan demikian tidak ada strategi pembangunan ekonomi daerah yang dapat berlaku untuk semua daerah. Namun di pihak lain, dalam menyusun strategi pembangunan ekonomi daerah, baik jangka pendek maupun jangka panjang, pemahaman mengenai teori pertumbuhan ekonomi wilayah, yang dirangkum dari kajian terhadap pola-pola pertumbuhan ekonomi dari berbagai wilayah, merupakan satu faktor yang cukup menentukan kualitas rencana pembangunan ekonomi daerah.

Pengakuan Pendapatan Premi Asuransi

Pengakuan penadapatan untuk setiap jenis usaha yang berbeda saat pengakuan pendapatan akan berbeda pula, menurut Sofyan Syafri Harahap dalam bukunya “Teori Akuntansi” dalam hal waktu terdapat empat alternatif pengakuan pendapatan, seperti berikut (Sofyan, 2002: 229):

1. Selama Produksi
2. Pada saat produksi selesai
3. Pada saat penjualan
4. Pada saat penagihan kas
Keempat alternatif ini dipakai dalam pengakuan pendapatan sesuai dengan jenis usaha yang dijalankan. Dalam perusahaan asuransi pengakuan pendapatan premi asuransi seperti ditentukan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dalam “Standar Akuntansi Keuangan”, yaitu:

Pendapatan premi dapat diakui sebagai berikut (IAI, 2000:28. 5):

  1. Apabila jumlah premi dapat diestimasi secara layak, maka pendapatan premi diakui selama periode kontrak dan estimasi jumlah premi tersebut disesuaikan setiap periode untuk mencerminkan jumlah premi yang sebenarnya.
  2. Apabila jumlah estimasi tidak dapat diestimasi secara layak, maka premi diperlakukan dengan menggunakan metode uang muka (deposit method) sampai jumlah premi dapat diestimasi secara layak.

Berdasarkan uraian di atas maka pendapatan premi asuransi diakui pada saat selama periode kontrak asuransi yang jumlahnya disesuaikan pada setiap periode atau sebesar uang muka apabila jumlah premi tidak dapat diestimasi secara layak.

--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.
--- --- --- ---
Kamus Ekonomi:
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |

Langkah Dalam Menentukan Premi Asuransi

Dalam menentukan premi, apabila seseorang menutup asuransi biasanya ia akan dikenakan premi dasar. Sedangkan pada hal-hal tertentu premi dapat berubah, premi tersebut dapat bertambah dan berkurang, dalam hal terdapat penambahan risiko yang dijamin perusahaan akan mengenakan premi tambahan, sedangkan seseorang akan mendapatkan reduksi premi untuk  jenis pertanggungan tertentu atau untuk ketentuan lainnya, dan tarif kompeni merupakan tarif yang digunakan untuk mengindari persaingan tidak yang sehat antar perusahaan asuransi.

Di dalam premi yang dikenakan kepada tertanggung terdapat tarif premi asuransi. Salah satu perbedaan mendasar antara penetapan tarif/harga pada asuransi dengan penentuan harga pada perusahaan lainnya adalah bahwa harga asuransi didasarkan pada suatu perkiraan. Proses itu dimulai dengan perkiraan biaya, perkiraan kerugian dan menggolongkan biaya itu di antara kelas polis. Selain itu perbedaan penting lainnya adalah bahwa harga/tarif dalam asuransi dibatasi oleh peraturan pemerintah, yang menghendaki agar tarif premi asuransi wajar, tidak terlalu tinggi dan tidak bersifat diskriminatif.
Tarif asuransi merupakan harga per unit produk asuransi, menurut Herman Darmawi dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Asuransi”, tarif asuransi yaitu “Suatu tarif atau rate adalah harga yang dikenakan terhadap satu unit pertanggungan (protection) atau setiap unit exposure”. (Darmawi, 2000: 38) Sedangkan untuk menentukan premi itu sendiri yaitu dengan mengalikan terif dengan jumlah unit proteksi yang dibeli/besarnya objek pertanggungan.

Dalam menentukan tarif premi tahap awal yang perlu dilakukan adalah proses underwriting, pada bagian ini diadakan penyelidikan terhadap objek yang akan dipertanggungkan oleh perusahaan, yaitu mengelompokkan risiko yang akan ditanggung sebagai dasar untuk menetukan besarnya tarif premi yang akan dikenakan pada tertanggung. Setelah dilakukan penetapan jenis risiko yang akan ditanggung oleh perusahaan asuransi oleh bagian underwriting, selanjutnya bagian aktuaria yang akan menghitung besarnya tarif premi yang akan dikenakan pada tertanggung.

Untuk memperoleh pendapatan premi perusahaan harus mampu meramalkan tuntutan pembayaran kerugian (klaim) dan mendistribusikan biaya-biaya yang telah diantisipasi tersebut kepada berbagai kelas pemegang polis (policy holder).

Premi akhir (final premium) yang dibayar oleh tertanggung disebut gross premiun atau premi kotor dan didasarkan atas nilai kotor (gross rate). Di dalam Gross rate terdapat bagian yang digunakan untuk menutupi kerugian yang disebut dengan “premi murni’ dan bagian yang digunakan untuk menutupi biaya-biaya operasional. Secara umum premi murni ditentukan dengan membagi kerugian harapan (kerugian yang diperkirakan) dengan jumlah unit exposure.

Contoh:
Jika 100.000 buah mobil yang diperkirakan akan menyebabkan kerugian sebesar Rp.3.000.000.000,00 maka premi murni menurut perhitungan adalah Rp.30.000,00.
perhitungannya adalah sebagai berikut:
Premi Murni
= (Kerugian Harapan) / (Jumlah Unit)
= (Rp.3.000.000.000) / (100.000)
= (Rp.30.000) 

Sedangkan untuk menentukan premium murni ke dalam tarif bruto yaitu dengan cara membagi premi murni dengan “rasio kerugian yang diizinkan”, yaitu yaitu persentase premi yang akan tersedia untuk membayar kerugian-kerugian setelah biaya dikeluarkan. Perubahan tersebut ditetapkan denngan rumus:

Tarif Bruto
= (Premi Murni) / (1 - Rasio Biaya)

Dengan menggunakan Rp30.000,00 sebagai premi murni, dan dengan mengasumsikan rasio biaya adalah 40% maka:

Tarif Bruto
= (Rp.30.000) / (1 - 0,40)
= (Rp.50.000)

Sementara premi murni bervariasi terhadap pengalaman kerugian pada jenis perusahaan asuransi tertentu. Rasio pengeluaran juga bervariasi dari satu jenis yang lain, tergantung pada biaya/pengeluaran yang termasuk di dalamnya.

Pendapatan premi asuransi haruslah cukup untuk menutupi kerugian-kerugian dan biaya-biaya, di sini perusahaan juga harus awas dalam memperkirakan besarnya kerugian pada setiap unit pertanggungan, sehingga perusahaan dapat memberikan tarif premi yang tepat sehingga pendapatan premi yang diterima perusahaan dapat menutupi kerugian dan biaya-biaya, selain itu juga persahaan dapat mengambil keuntungan dari usaha pertanggungan ini.

--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.
--- --- --- ---
Kamus Ekonomi:
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |

Komponen Komponen Premi Asuransi

Komponen dari premi asuransi menurut Soeisno DjojoSoedarso dalam bukunya Prinsip-Prinsip manjemen Risiko dan Asuransi, adalah sebagai berikut (Soeisno, 1999: 123):
1. Premi dasar
2. Premi tambahan
3. Reduksi premi
4. Tarif kompeni

Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
Pengertian Premi Dasar
Adalah premi yang dibebankan kepada tertanggung ketika polis dibuat atau dikeluarkan, yang perhitungannya didasarkan:

  1. Data dan keterangan yang diberikan oleh tertanggung kepada penanggung pada waktu penutupan asuransi pertama.
  2. Luasnya risiko yang dijamin oleh penanggung sebagaimana yang dikehendaki oleh tertanggung.


Premi dasar inilah yang tercantum dalam polis dan umumnya tidak berubah selama data dan keterangan serta luasnya jaminan tidak berubah. Premi dasar biasanya terdiri dari tiga kelompok:

  1. Komponen premi untuk membayar kerugian-kerugian yang mungkin terjadi, yang tingginya didasarkan probabilitas terjadinya kerugian.
  2. Komponen premi yang dimaksudkan untuk membiayai operasi perusahaan asuransi (cost of operation atau exploitation).
  3. Komponen sebagai bagian keuntungan (profit) bagi perusahaan asuransi.

Pengertian Premi Tambahan
Adakalanya data dan keterangan yang disampaikan oleh tertanggung kepada penganggung ketika menutup asuransi atau intrestnya tidak selalu sama dengan keadaan yang sebenarnya atau pada waktu polis ditanda tangani, yang disebabkan pada saat itu data/informasinya belum lengkap atau tertanggung menghendaki perubahan kondisi pertanggungan.

Untuk tambahan data/keterangan interest yang diasuransikan atau perubahan/penambahan risiko yang dijamin, kepada tertanggung dikenakan tambahan premi (additional premiums, surcharge).

Pengertian Reduksi Premi
Dalam hal-hal tertentu penanggung dapat memberikan reduksi terhadap premi yang dikenakan kepada tertanggung, misalnya terhadap premi tahunan, maka bila seseorang mengasuransikan untuk dua tahun sekaligus, biasanya akan diberikan reduksi premi.

Pengertian Tarif Kompeni
Untuk menghindari persaingan yang tidak sehat antar perusahaan asuransi, organisasi/gabungan perusahaan-perusahaan asuransi menyusun daftar asuransi yang harus dipakai sebagai pedoman dalam menentukan tarif premi asuransi yang akan dikenakan kepada nasabahnya.

--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.
--- --- --- ---
Kamus Ekonomi:
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |

Pengertian Pendapatan Premi Asuransi

Pengertian Pendapatan 
Pendapatan menurut Hendriksen dan Van Breda dalam bukunya "Teori Akuntansi" yang diterjemahkan oleh Herman Wibowo menyatakan, bahwa "Pendapatan (revenue) dapat didefinisikan secara umum sebagai hasil dari suatu perusahaan". (Hendriksen & Bred, 2000: 374)

Pengertian premi asuransi menurut Soeisno Djojosoedarso dalam bukunya yang berjudul "Prinsip-Prinsip manjemen Risiko dan Asuransi", yaitu; "Premi asuransi merupakan pembayaran dari tertanggung kepada penanggung, sebagai jasa atas pengalihan atas risiko kepada penanggung". (Soeisno, 1999:120)
Sedangkan mengenai pendapatan premi asuransi dijelaskan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dalam
Standar Akuntansi Keuangan nomor 28, yang menyatakan bahwa (IAI, 2000:28.5):
Premi yang di peroleh sehubungan dengan kontrak asuransi dan reasuransi diakui sebagai pendapatan selama periode polis (kontrak) berdasarkan proporsi jumlah proteksi yang diberikan. 

Pendapatan premi juga dinyatakan dalam Standar Akuntansi Keuangan nomor 36, yaitu (IAI, 2000:36.1):
Premi merupakan pendapatan perusahaan asuransi, disamping hasil investasi yang menjadi kegiatan yang tak terpisahkan dari usaha asuransi. 

Pengertian Premi
Dari pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa premi merupakan salah satu pendapatan perusahaan asuransi yang disebut sebagai pendapatan premi asuransi, yaitu pendapatan dari hasil aktivitas utama perusahaan asuransi yang diperoleh dari aktivitas pertanggungan/pengalihan risiko.

Pengertian Premi Bruto 
Pendapatan dari premi bruto adalah pendapatan premi yang terdiri dari penutupan langsung dan penutupan tidak langsung. Seperti yang dikutip dari Standar Akuntansi Indonesia, yang disusun oleh Ikatan Akuntan Indonesia, bahwa Premi bruto adalah premi yang diperoleh dari penutupan langsung (direct premium written) dan penutupan tidak langsung (Indirect premium written) premi penutupan langsung terdiri dari termasuk premi yang diperoleh dari penutupan polis bersama. (IAI, 2000: 28.2) Dilanjutkan lagi mengenai polis bersama menurut Ikatan Akuntan Indonesia bahwa Polis bersama adalah penutupan terhadap 1 (satu) objek asuransi yang dilakukan secara bersama oleh beberapa perusahaan asuransi dan dinyatakan dalam 1 (satu) polis.

Pendapatan premi yang diperoleh perusahaan haruslah cukup untuk menutupi kerugian-kerugian, biaya-biaya dan untuk bagian keuntungan perusahaan maka dalam asuransi perlu diperhatikan komponen dari premi asuransi.


--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.
--- --- --- ---
Kamus Ekonomi:
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |

Anggaran Pendapatan Premi Asuransi

Anggaran merupakan rencana-rencana yang disajikan pada awal periode operasi begitu juga dengan anggaran pendapatan. Untuk membuat anggaran pendapatan perlu dilakukan analisis pendapatan dan memperkirakan hasil penjualannya terlebih dahulu, seperti yang dikatakan oleh Lili M. Sadeli dalam bukunya yang berjudul Akuntansi Manajemen, bahwa:

Langkah pertama adalah analisis pendapatan (revenues) yang dihasilkan dalam periode ini, dan mengestimasikan hasil penjualan terlebih dahulu, karena tingkat operasi pabrik dan beberapa keputusan lain terikat oleh hasil penjualan yang diharapkan. (Sadeli, 1999: 137)
Menurutnya untuk membuat anggaran pendapatan dan perlu diperkirakan terlebih dahulu hasil penjualan untuk membuat anggaran pendapatan tersebut, sedangkan untuk menyajikan suatu anggaran hasil penjualan, menurut Lili M. Sadeli dalam bukunya tersebut, terdapat beberapa faktor yang harus dibuat dan diestimasikan yaitu (Sadeli, 1999: 137):

  1. Harga untuk tiap-tiap produk perusahaan
  2. Jumlah untuk tiap-tiap produkyang akan dijual.


Pendapatan premi merupakan jenis pendapatan utama, yang dihasilkan oleh perusahaan asuransi, anggaran pendapatan premi merupakan rencana mengenai pendapatan premi yang akan dihasilkan oleh perusahaan asuransi pada untuk periode selanjutnya yang disajikan sebelum awal periode. 
Dalam membuat anggaran pendapatan ini langkah pertama yang harus dilakukan adalah menganalisis pendapatan premi yang dihasilkan dalam periode ini dan mengestimasikan hasil penjualan polis terlebih dahulu.

Berdasarkan kutipan diatas, maka untuk menyajikan suatu anggaran hasil penjualan polis, yang harus dibuat dan diestimasikan adalah sebagai berikut:

  1. Harga premi dari tiap-tiap polis asuransi perusahaan
  2. Jumlah unit dari tiap-tiap produk yang akan terjual.


Dalam menyusun estimasi tersebut, tidak terlepas dari kegiatan staf bagian penjualan atau pemasaran pada perusahaan yang harus mengakaji hasil penjaulan perusahaan lalu, sebagai dasar untuk estimasi dan hasil estimasi tersebut harus wajar dan realistis.

--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.
--- --- --- ---
Kamus Ekonomi:
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |

Pengaruh Biaya Pemasaran Terhadap Tingkat Pendapatan Premi Asuransi

Setiap perusahaan pastinya menginginkan agar dapat memperoleh pendapatan yang tinggi dan mendapatkan laba karena hal itu merupakan faktor yang menentukan tercapai/tidaknya tujuan perusahaan, dalam perusahaan asuransi tanpa pendapatan premi yang yang cukup untuk menutupi kerugian dan biaya-biaya, sehingga bila pendapatannya cukup/lebih untuk memenuhinya perusahaan asuransi akan dapat mencapai tujuannya.

Untuk memperoleh pendapatan dan keuntungan yang diinginkan maka perusahaan harus memperoleh sejumlah pendapatan tertentu. Oleh karena itu perusahaan dituntut untuk menciptakan produk yang dapat bersaing dengan maksud untuk dapat menentukan harga yang bersaing, sehingga dapat diraih pendapatan yang diharapkan, selain itu, jumlah penjualan produk tersebut juga merupakan faktor utama yang dapat menentukan besarnya pendapatan perusahaan. Dengan target penjualan yang dibuat, perusahaan akan mencapai pendapatan yang diharapkan sehingga akan diperoleh laba yang diinginkan.
Untuk meraih penjualan dan mencapai target penjualan produk perusahaan yang telah direncanakan, perusahaan membutuhkan suatu rangkaian, kegiatan tersebut adalah kegiatan pemasaran. Melalui kegiatan ini perusahaan dapat menyampaikan produk yang telah dihasilkan, selain itu kegiatan ini juga mengusahakan agar dapat memahami produk yang bagaimana yang diinginkan konsumen selanjutnya perusahaan dapat menyesuaikan produknya, sehingga perusahaan dapat menciptakan pelanggan yang siap untuk membeli produk perusahaan, pada akhirnya akan diperoleh penjualan yang diharapkan dan perusahaan akan meraih keuntungan yang diharapkan.

Dalam melaksanakan kegiatan pemasaran perusahaan memerlukan suatu pengorbanan, yaitu biaya yang dinamakan biaya pemasaran. Biaya pemasaaran adalah biaya yang digunakan untuk melaksanakan seluruh kegiatan pemasaran, yaitu biaya yang terjadi pada produk selesai diproduksi sampai produk tersebut menghasilkan pendapatan dan pendapatan itu sendiri merupakan hasil dari aktivitas suatu perusahaan.

Maka dengan adanya biaya pemasaran untuk menunjang usaha pemasaran yang dilakukan, perusahaan asuransi diharapkan akan mampu menciptakan pendapatan premi yang diharapkan melalui penjualan produk asuransi yaitu suatu perjanjian pertanggungan melalui penjualan polis asuransi. Hal tersebut didukung oleh pernyataan dari Buchari Alma dalam bukunya yang berjudul “Manajemen Pemasaran dan Pemasaran Jasa”, yang menyatakan bahwa: “Pada umumnya apabila dana bertambah untuk kegiatan marketing maka jumlah penjualan meningkat”. (Buchari Alma, 2000: 157). Oleh karena itu biaya pemasaran sangat berpengaruh terhadap tingkat penjualan polis asuransi yang akan menentukan tingkat pendapatan premi asuransi.

--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.
--- --- --- ---
Kamus Ekonomi:
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |

Tinjauan Teori Biaya Pemasaran

1. Pengertian Biaya Pemasaran
Pengertian biaya dalam Kamus Istilah Akuntansi yaitu, Pengorbanan yang diukur dengan harga yang dibayar untuk mendapatkan, menghasilkan, atau memelihara barang atau jasa. (Siegel & Kshim, 1999: 108)

Pengertian pemasaran menurut Philip Kotler dalam bukunya yang berjudul Marketing Managment, yaitu:
Marketing is a societal process by which individuals and groups obtain what they need and want through creating, offering, and freely exchanging products and services of value with others. (Kotler, 2000: 9)
Sedangkan arti biaya pemasaran itu sendiri menurut Supriyono dalam bukunya yang berjudul Akuntansi Biaya menyatakan bahwa pengertian biaya pemasaran adalah meliputi semua biaya dalam rangka menyelenggarakan kegiatan pemasaran. (Supriyono,1999: 200)

Menurut Mulyadi dalam bukunya Akuntansi Biaya memberikan pengertian biaya pemasaran, yaitu Biaya pemasaran meliputi semua biaya yang terjadi sejak saat produk selesai diproduksi dan disimpan dalam gudang sampai dengan produk tersebut diubah kembali dalam bentuk uang tunai. (Mulyadi, 2000: 529)

Dalam arti sempit biaya pemasaran seringkali dibatasi artinya sebagai biaya penjualan, yaitu biaya-biaya yang dikeluarkan untuk menjual produk ke pasar, sedalam arti ini biaya pemasaran hanya meliputi biaya-biaya yang dikeluarkan sejak produk jadi dikirimkan kepada pembeli sampai dengan produk diterima oleh pembeli. Namun dari kutipan di atas diatas dapat diambil kesimpulan bahwa biaya pemasaran adalah semua biaya yang digunakan untuk melaksanakan kegiatan pemasaran, yaitu biaya yang terjadi pada saat produk selesai diproduksi sampai produk tersebut menghasilkan uang/pendapatan yang direalisasikan.

Setiap perusahaan yang melaksanakan kegiatan pemasaran tentunya akan sangat membutuhkan suatu konsep. Konsep pemasaran mengandung arti berupa arah kegiatan serta cara yang harus dilaksanakan untuk mencapai tujuan perusahaan dan fungsi pemasaran. Konsep pemasaran yang dituliskan oleh Djaslim Saladin dalam bukunya yang berjudul Intisari Pemasaran dan Unsur-Unsur Pemasaran, yaitu terdiri dari (Djaslim, 2002: 5):

1. Konsep produksi
2. Konsep produk
3. Konsep penjualan
4. Konsep pemasaran
5. Konsep pemasaran sosial
6. Konsep pemasaran global.
Penjelasan dari beberapa konsep pemasaran tersebut adalah sebagai berikut:
1. Konsep produksi
Konsep ini berorientasi pada produksi yang mengarahkan segenap upaya untuk mencapai efisiensi produk tinggi dan distribusi luas. Tugas manajemen disini adalah memproduksi barang sebanyak mungkin, karena ia beranggapan bahwa konsumen akan menerima produk yang tersedia secara luas dengan daya beli mereka.

2. Konsep produk
Konsep ini berorientasi pada produk dengan memusatkan upaya untuk membuat produk berkualitas, karena ia beranggapan konsumen menyukai produk berkualitas tinggi, penampilan dan ciri-ciri terbaik.

3. Konsep penjualan
Konsep ini berorientasi pada volume penjualan yang tinggi. Tugas manajemen di sini adalah meningkatkan volume penjualan, karena manajemen beranggapan bahwa perusahaan perlu mengadakan kegiatan penjualan agresif dan promosi yang gencar.

4. Konsep pemasaran
Konsep ini berorientasi pada kebutuhan dan keinginan pasar sasaran. Tugas manajemen disini adalah berusaha memenuhi atau memberikan kepuasan kepada konsumen semaksimal mungkin, karena ia beranggapan bahwa perlu adanya pengerahan produk yang memberikan pengerahan yang tinggi jika dibandingkan dengan produk pesaing.

5. Konsep pemasaran sosial
Konsep ini berorientasi pada jaminan kesejahteraan konsumen dan masyarakat. Tugas manajemen di sini adalah di samping memberikan kepuasan juga dapat memberikan jaminan yang tinggi, karena ia beranggapan bahwa di samping adanya pengerahan produk yang memberikan kepuasan yang tinggi, perlu juga adanya jaminan tingkat kesejahteraan konsumen dan masyarakat.

6. Konsep pemasaran global
Pada konsep ini manajer eksekutif berusaha memahami semua faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhi pemasaran melalui manajemen strategi yang mantap. Sedangkan tujuan akhirnya berupaya untuk memenuhi keinginan semua pihak yang terlibat dalam perusahaan (stakeholder benefits).

Konsep pemasaran merupakan arahan dalam melaksanakan kegiatan tersebut. Alasan perusahaan menggunakan konsep pemasaran adalah karena berbagai alasan, diantaranya adalah karena penurunan penjualan, pertumbuhan yang lamban, pola beli yang berubah-ubah, peningkatan persaingan, meningkatnya pengeluaran untuk pemasaran dan perubahan situasi ekonomi dan lingkungan semua alasan tersebut harus diantisipasi oleh perusahaan dalam rangka peningkatan penjualan.

Dalam melakukan pemasaran pada setiap perusahaan tentunya akan berbeda, sesuai dengan jenis produknya, begitu juga untuk perusahaan asuransi, yang jenis produknya merupakan produk jasa, dalam melakukan pemasaran produknya akan berbeda pada sistem penjulannya, penjualan yang dilakukannya melalui berbagai sistem, seperti dalam pernyataan Herman darmawi bukunya yang berjudul Manajemen Asuransi, yaitu: Penjualan produk asuransi dilakukan dengan sistem peragenan, melalui sistem penjualan langsung dan melalui mass merchandising. (Darmawi, 2000: 193). Jadi penjualan produk asuransi dapat dilakukan dengan melalui agen, penjualan langsung dan mass merchandising.

Orang dapat mengasumsikan bahwa selalu ada kebutuhan akan penjualan. Akan tetapi tujuan pemasaran bukan untuk memperluas penjualan. Tujuan pemasaran adalah untuk mengetahui dan memahami pelanggan sedemikian rupa sehingga produk dan jasa itu cocok dengan pelanggan selanjutnya menjualnya. Idealnya pemasaran hendaknya menghasilkan seorang pelanggan yang siap membeli. Mencari tahu semua yang dibutuhkan selanjutnya menyediakan produk dan jasa itu, hal tersebut akan lebih efektif, karena yang dibutuhkan adalah kegiatan pemasaran yang efektif, sehingga biaya perusahaan yang digunakan oleh perusahaan untuk kegiatan pemasaran tersebut tidak akan sia-sia dan akan memperoleh pendapatan yang sesuai hingga dapat menciptakan laba pada perusahaan.

2. Penggolongan Biaya Pemasaran
Menurut Mulyadi dalam bukunya yang berjudul Akuntansi Biaya, Biaya pemasaran dapat digolongkan menurut fungsi atau kegiatan pemasaran, sedangkan secara garis besar biaya pemasaran tersebut dapat digolongkan menjadi dua golongan seperti sebagai berikut (Mulyadi, 2000: 530):

  1. Biaya untuk mendapatkan pesanan (order-getting),
  2. Biaya memenuhi pesanan (order-filling).


Biaya pemasaran digolongkan menurut fungsi atau kegiatan pemasaran, seperti sebagai berikut (Mulyadi, 2000: 530):

  1. Fungsi penjualan
  2. Fungsi advertensi
  3. Fungsi pergudangan
  4. Fungsi pembungkusan
  5. Fungsi kredit dan penagihan
  6. Fungsi akuntansi pemasaran.


Untuk mendapatkan pesanan (order-getting costs) perusahaan melakukan kegiatan advertensi dan promosi, sedangkan untuk memenuhi pesanan (order-filling costs) perusahaan melakukan kegiatan pergudangan, penjualan, pembungkusan dan pengiriman, pemberian kredit dan penagihan serta kegiatan akuntansi pemasaran. Adapun penjelasan peggolongan biaya menurut fungsi dan kegiatan pemasaran adalah sebagai berikut:
1. Fungsi penjualan.
Fungsi penjualan terdiri dari kegiatan untuk memenuhi pesanan yang diterima dari pelanggan. Biaya fungsi penjualan terdiri dari gaji karyawan fungsi penjualan, biaya depresiasi kantor, biaya sewa kantor.

2. Fungsi advertensi.
Fungsi advertensi terdiri dari kegiatan perancangan dan pelaksanaan kegiatan order-getting melakukan kegiatan advertensi dan promosi. Biaya fungsi advertensi terdiri dari biaya gaji karyawan fungsi advertensi, biaya iklan, biaya pameran, biaya promosi, biaya contoh (Sample).

3. Fungsi pergudangan.
Fungsi pergudangan terdiri dari kegiatan penyimpanan produk jadi yang siap untuk dijual. Biaya fungsi pergudangan terdiri dari gaji karyawan gudang, biaya depresiasi gudang, dan biaya sewa gudang.

4. Biaya pembungkusan dan pengiriman.
Fungsi pembungkusan dan pengiriman terdiri dari kegiatan pembungkusan produk dan pengiriman produk kepada pembeli. Biaya fungsi pembungkusan dan pengiriman terdiri dari biaya karyawan pembungkusan dan pengiriman, biaya bahan pembungkus, biaya pengiriman, biaya depresiasi kendaraan, biaya operasi kendaraan.

5. Fungsi kredit dan penagihan.
Fungsi kredit terdiri dari kegiatan pemantauan kemampuan keuangan pelanggan dan penagihan piutang dari pelanggan, biaya fungsi kredit dan penagihan terdiri dari gaji karyawan bagian penagihan, kerugian pernghapusan piutang, potongan tunai.

6. Fungsi akuntansi pemasaran.
Fungsi akuntansi pemasaran terdiri dari kegiatan pembuatan faktur dan penyelengaraan catatan akuntansi penjualan. Biaya fungsi akuntansi pemasaran terdiri dari gaji karyawan fungsi akuntansi pemasaran dan biaya kantor.

Secara garis besar biaya pemasaran dapat digolongkan ke dalam dua kelompok, biaya untuk mendapatkan pesanan (order-getting costs), dan biaya untuk memenuhi pesanan (order-filling costs). Untuk menyediakan informasi biaya bagi kepentingan manajemen, biaya pemasaran digolongkan menurut kegiatan pokok pemasaran atau fungsi pemasaran: fungsi pergudangan, fugsi advertensi, fungsi penjualan, fungsi pembungkusan dan pengiriman, fungsi kredit dan penagihan, dan fungsi akuntansi pemasaran.

3. Karakteristik Biaya Pemasaran
Biaya pemasaran memiliki karakteristik yang berbeda dengan biaya produksi. Karakteristik biaya pemasaran seperti yang dituliskan oleh Mulyadi dalam bukunya Akuntansi Biaya adalah sebagai berikut (Mulyadi, 2000: 531):

  1. Banyak ragam kegiatan pemasaran yang ditempuh oleh perusahaan dalam dalam memasarkan produknya.
  2. Kegiatan pemasaran seringkali mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan perubahan kondisi pasar.
  3. Kegiatan pemasaran berhadapan dengan konsumen yang merupakan variabel yang tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan.
  4. Anggaran biaya pemasaran terdapat biaya tidak langsung dan biaya bersama (joint cost) yang lebih sulit pemecahannya bila dibandingkan dengan yang terdapat dalam biaya biaya produksi.


Untuk lebih jelasnya, dari karekteristik biaya pemasaran tersebut adalah sebagai berikut:

  1. Banyak ragam kegiatan pemasaran yang ditempuh oleh perusahaan dalam dalam memasarkan produknya, sehingga perusahaan yang sejenis produknya belum tentu menempuh cara pemasaran yang sama. Hal ini sangat berlainan dengan kegiatan produksi. Dalam memproduksi produk pada umumnya digunakan untuk bahan baku, mesin dan cara produksi yang sama dari waktu ke waktu. Hal ini memungkinkan diadakannya pembandingan biaya produksi antara perusahaan yang sejenis. Berbeda halnya dengan kegiatan pemasaran produk yang sangat bervariasi meskipun dalam perusahaan yang sejenis. Sehingga seringkali tidaklah mungkin diadakannya pembandingan biaya pemasaran antara perusahaan yang satu dengan yang lain.
  2. Kegiatan pemasaran seringkali mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan perubahan kondisi pasar. Di samping terdapat berbagai macam metode pemasasaran, seringkali terjadi perubahan metode pemasaran untuk menyesuaikan dengan perubahan kondisi pasar karena perubahan kebutuhan konsumen yang menghendaki pelayanan cepat, maka suatu perusahaan mungkin akan mengganti saluran distribusinya yang selama ini digunakan oleh suatu perusahaan, sehingga metode pemasaran produk sangat fleksibel. Hal ini menimbulkan masalah penggolongan dan interpretasi biaya pemasaran.
  3. Kegiatan pemasaran berhadapan dengan konsumen yang merupakan variabel yang tidak dapat dikendalikan oleh perusahaan. Manajemen dapat mengendalikan biaya tenaga kerja, biaya bahan baku, jam kerja dan jumlah mesin yang digunakan, tetapi tidak seorang pun yang dapat mengatakan apa yang akan dilakukan oleh konsumen. Dalam kegiatan produksi, efisiensi diukur dengan melihat jumlah biaya yang dapat dihemat untuk setiap satuan produk yang diproduksi. Sebaliknya dalam kegiatan pemasaran, kenaikan volume penjualan merupakan ukuran efisiensi, meskipun tidak setiap kenaikan volume penjualan diikuti dengan kenaikan laba.
  4. Anggaran biaya pemasaran terdapat biaya tidak langsung dan biaya bersama (joint cost) yang lebih sulit pemecahannya bila dibandingkan dengan yang terdapat dalam biaya biaya produksi. Jika suatu perusahaan menjual berbagai macam produk dengan cara yang berbeda-beda di beberapa daerah pemasaran, maka akan menimbulkan berbagai masalah biaya bersama (joint cost) yang kompleks.

Biaya pemasaran memiliki karakteristik yang berbeda dengan biaya produksi. Biaya pemasaran sangat bervariasi, bahkan untuk perusahaan sejenis pun. Hal ini disebabkan oleh karena sangat bervariasinya kegiatan pemasaran. Biaya pemasaran sering mengalami perubahan, karena seringkalinya perubahan kegiatan pemasaran untuk menysuaikan dengan perubahan pasar. Tidak seperti halnya biaya produksi, ukuran efisiensi biaya pemasaran sulit untuk diterapkan, karena ukuran prestasi kegiatan pemasaran terletak pada kenaikan volume penjualan. Biaya pemasaran banyak mengandung biaya tidak langsung dan biaya bersama yang menimbulkan kesulitan alokasi biaya.

4. Analisis Biaya Pemasaran
Analisis biaya pemasaran bertujuan untuk penentuan harga produk, pengendalian biaya, perencanaan dan pengarahan kegiatan pemasaran. Cara analisis biaya pemasaran menurut Mulyadi dalam buku Akuntansi Biaya dapat digolongkan menjadi tiga, yaitu (Mulyadi, 2000: 532):

  1. Analisis biaya pemasaran menutut jenis biaya atau obyek pengeluaran.
  2. Analisis biaya pemasaran menurut fungsi pemasaran
  3. Analisis biaya pemasaran menurut usaha pemasaran.


Adapun penjelasannya adalah sebagai berikut:
1. Analisis biaya pemasaran pemasaran menurut jenis biaya
Dalam cara analisis ini, biaya pemasaran dipecah sesuai dengan jenis biaya pemasaran seperti: gaji, biaya iklan, biaya perjalanan, biaya depresiasi, peralatan kantor, biaya operasi, dan pemeliharaan truk, dan sebagainya. Dengan cara analisis ini manajemen dapat mengetahui rincian jenis biaya pemasaran, namun tidak dapat memperoleh informasi mengenai biaya yang telah dikeluarkan untuk menjalankan kegiatan pemasaran tertentu.

2. Analisis biaya pemasaran menurut fungsi pemasaran
Fungsi pemasaran adalah suatu kegiatan pemasaran yang memerlukan pengeluaran biaya. Analaisis biaya pemasaran menurut fungsi pemasaran bertujuan untuk pengendalian biaya dan untuk analisis biaya pemasaran menurut usaha pemasaran. Langkah analisis biaya pemasaran menurut fungsi pemasaran adalah sebagai berikut:

  1. Menentukan dengan jelas fungsi-fungsi pemasaran sehingga dapat ditentukan dengan tepat manajer yang bertanggung jawab untuk melaksanakan fungsi tersebut. Contoh pembagian fungsi pemasaran adalah fungsi penjualan dan advertensi pergudangan.
  2. Menggolongkan tiap-tiap jenis biaya pemasaran sesuai dengan fungsinya.
  3. Menentukan satuan ukuran jasa yang dihasilkan oleh tiap-tiap fungsi.
  4. Menentukan biaya per satuan kegiatan pemasaran dengan cara membagi total biaya pemasaran yang dikeluarkan untuk fungsi tertentu dengan jumlah satuan jasa yang dihasilkan oleh fungsi yang bersangkutan.

3. Analisis biaya pemasaran menurut usaha pemasaran

Analisis biaya pemasaran menurut jenis biaya dan fungsi pemasaran berguna untuk pengendalian biaya, tetapi tidak membantu dalam mengarahkan kegiatan pemasaran. Analisis biaya pemasaran menurut usaha pemasaran dapat dibagi sebagai berikut:

  1. menurut jenis produk
  2. menurut daerah pemasaran
  3. menurut besar pesanan
  4. menurut saluran distribusi


Langkah-langkah yang harus ditempuh dalam melakukan bisnis biaya pemasaran, baik menurut jenis produk, daerah pemasaran, besar pesanan, maupun menurut saluran distribusi adalah sebagai berikut:

  1. menggolongkan jenis biaya pemasaran menurut fungsinya.
  2. menentukan jenis analisis yang dijalankan.
  3. menggolongkan jenis biaya pemasaran ke dalam: biaya langsung, biaya setengah langsung, dan biaya tidak langsung.
  4. menentukan dasar alokasi biaya pemasaran.
  5. mencari hubungan antara biaya dengan pendapatan (revenues) yang diperoleh dari pengeluaran biaya tersebut, untuk setiap jenis produk, daerah pemasaran, besar order, atau saluran distribusi. Misalnya adalah sebagai berikut: a). hitung laba bruto, b). hitung biaya pemasaran.


Dari berbagai cara analisis biaya pemasaran tersebut analisis biaya pemasaran menurut jenis biaya pemasaran merupakan analisis yang paling sederhana, dengan analisis ini manajemen dapat memperoleh informasi rincian biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan pemasaran. Analisis biaya pemasaran menurut fungsi pemasaran dilakukan dengan cara menggolongkan berbagai jenis biaya pemasaran menurut kegiatan pokok pemasaran, dengan analisis ini, manajemen dapat memperoleh informasi untuk mengendalikan kegiatan tiap fungsi pemasaran tersebut. Analisis biaya pemasaran menurut penerapan usaha pemasaran dilakukan dengan cara menghitung biaya peemasaran untuk setiap usaha pemasaran, analisis biaya pemasaran dengan cara ini dapat menghasilkan informasi biaya yang bermanfaat bagi manajemen guna mengarahkan usaha pemasaran.

5. Anggaran Biaya Pemasaran
Anggaran suatu perusahaan dapat disusun dan ditetapkan oleh seorang eksekutif dangan bantuan sebuah staf. Prosedur ini biasanya diikuti karena pertimbangan hubungan antar manusia dalam penyusunan dan perencanaan dan pengukuran kinerja.

Dalam membuat anggaran pemasaran harus dibuat anggaran penjualan terlebih dahulu, seperti yang dikatakan oleh Supriyono dalam bukunya yang berjudul Akuntansi Biaya,bahwa Penyusunan anggaran biaya pemasaran dipengaruhi besarnya anggaran penjualan yang diharapkan akan dapat dicapai oleh perusahaan. (Supriyono, 1999: 205).

Penyusunan anggaran biaya pemasaran dibuat setelah anggaran penjualan disusun karena di dalam anggaran penjualan dirinci lebih lanjut berdasar jenis produk atau barang atau jasa yang dijual, berdasar daerah penjualan, golongan langganan, golongan penjual, saluran distribusi dan sebagainya. Pada akhirnya anggaran biaya pemasaran dibuat setelah anggaran penjualan disusun.

Langkah-langkah yang perlu dilkukan dalam menyusun anggaran biaya pemasaran menurut Supriyono dalam bukunya Akuntansi Biaya, adalah sebagai berikut (Supriyono, 1999: 205):

  1. Menyusun anggaran biaya pemasaran atas dasar jenis atau elemen biaya pemasaran.
  2. Mendistribusikan setiap jenis biaya pemasaran ke dalam setiap fungsi pemasaran.
  3. Mengalokasikan biaya pemasaran setiap fungsi ke dalam setiap pusat laba yang merupakan usaha pemasaran.

Dalam kegiatan pemasaran perusahaan dapat dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu mencari pesanan, menyangkut fungsi pemasaran usaha penjualan dan periklanan/promosi, dan memenuhi pesanan, menyangkut fungsi pemasaran kegiatan pergudangan, pengepakkan, kredit dan penagihan serta akuntansi umum (untuk pemasaran).

Pada staf bagian pemasaran dan bagian yang berhubungan dengan kegiatan pemasaran harus manyiapkan rencana anggaran bagi biaya tersebut. Rencana ini didasarkan pada biaya-biaya aktual pada tahun-tahun sebelumnya, yang dibuat menurut jumlah penjualan yang diharapkan untuk usaha yang pada periode akan datang, sedangkan untuk biaya seperti penyusutan dan asuransi untuk bagian pemasaran diestimasi berdasarkan kebijakan yang ditetapkan oleh manajemen/komisi anggaran.

--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.
--- --- --- ---
Kamus Ekonomi:
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |

Tinjauan Lengkap Asuransi

Asuransi dalam bahasa Belanda berarti verzekering atau assuranstie yang berarti pertanggungan, yang sekarang sering dipakai dalam praktik dunia usaha. Sesuai dengan arti dari kata tersebut, usaha asuransi merupakan usaha pertanggungan/pengalihan risiko. Dengan adanya usaha ini orang dapat mengalihkan pertanggungan yang sedapat mungkin memperkecil risiko atas peristiwa yang mungkin akan dialami kepada perusahaan asuransi, dengan cara memberikan jaminan dan ganti rugi atas peristiwa tersebut. Selain itu perusahaan asuransi merupakan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat yang dapat mendukung investasi dalam menunjang pembangunan dan ekonomi negara.

1. Pengertian Asuransi
Pengertian asuransi menurut pasal 246 Kitab Undang-Undang Hukum Dagang (KUHD) RI:
Asuransi atau pertanggungan adalah suatu perjanjian dengan mana seorang penanggung mengikatkan diri kepada seorang tertanggung dengan menerima suatu premi, untuk memberi suatu pergantian kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan suatu peruntungan yang diharapkan, yang mungkin akan dideritanya karena suatu peristiwa yang tak tertentu.
Sedangkan Molengraaff memberi pengertian tentang asuransi yang dikutip oleh Soeisno Djojosoedarso dalam bukunya yang berjudul Prinsip-Prinsip Manajemen Risiko dan Asuransi, yaitu:

Asuransi kerugian adalah persetujuan dengan mana satu pihak, Penanggung – mengikatkan diri terhadap orang lain, tertanggung – untuk mengganti kerugian yang dapat diderita oleh tertanggung, karena terjadinya suatu peristiwa yang telah ditunjuk dan yang belum tentu serta kebetulan, dengan mana pula tertanggung berjanji untuk membayar premi. (Soeisno, 1999: 72)

Dari pengertian tersebut maka dapat diambil kesimpulan bahwa asuransi merupakan usaha pengalihan kerugian akibat risiko yang mungkin terjadi atas obyek yang telah ditentukan dari pihak yang berkepentingan sebagai tertanggung kepada perusahaan asuransi sebagai penanggung yang berdasarkan perjanjian antara tertanggung dengan pihak yang penanggung yang dengan syarat pihak tertanggung membayar sejumlah uang premi kepada pihak penanggung sebagai imbalan pengalihan kerugian tersebut dan bila benar-benar terjadi kerugian pada obyek yang telah ditentukan tersebut, pihak penanggung akan membayar kepada tertanggung sejumlah uang sebagai ganti kerugian.

2. Manfaat Asuransi
Asuransi sangat memberikan manfaat bagi kehidupan sosial ekonomi masyarakat dan negara. Menurut Soeisno Djojosoedarso dalam bukunya Prinsip-Prinsip Manajemen Risiko dan Asuransi, manfaat asuransi bagi kehidupan sosial dan dalam memproduktifkan kegiatan ekonomi adalah sebagai berikut (Soeisno, 1999: 89):

  1. Memberi rasa aman
  2. Mengeliminir ketergantungan
  3. Menyediakan dana yang dibutuhkan untuk investasi
  4. Kontribusi terhadap pendidikan
  5. Kontribusi terhadap lembaga-lembaga sosial
  6. Stimulasi menabung
  7. Melengkapi persyaratan kredit
  8. Mempercepat laju pertumbuhan ekonomi
  9. Mengurangi biaya modal
  10. Menjamin kestabilan organisasi/perusahaan
  11. Mendorong usaha pencegahan
  12. Membantu upaya peningkatan konservasi kesehatan.


Adapun penjelasan dari uraian di atas adalah sebagai berikut:
1. Memberikan rasa aman
Salah satu yang mendorong lahirnya usaha asuransi adalah dorongan naluriah yang ada paada diri setiap orang, yaitu keinginan akan rasa aman. Hal mana dalam aspek psikologis mungkin diwujudkan dalam sikap atau mungkin pula menimbulkan sikap baru, karena mereka menghendaki adanya alat pemenuhan terhadap keinginannya (akan rasa aman). Dengan asuransi rasa aman tersebut akan terpenuhi dan akan menghilangkan rasa kekhawatiran dan ketakutan terhadap ketidakpastian akan bahaya tertentu.

2. Mengeliminir ketergantungan.
Perkembangan-perkembangan yang tidak menguntungkan mungkin akan dialami oleh seseorang yang disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi/keuangan yang dialami oleh orang lain, kepada siapa orang yang bersangkutan bergantung.

3. Kontribusi terhadap pendidikan
Perusahaan-perusahaan asuransi jiwa telah jauh memberikan perhatian khusus dalam masalah penyediaan dana bagi kelanjutan pendidikan anak-anak setelah orang tua atau yang bertanggung jawab membiayainya meninggal dunia atau menurun kemampuannya. Pada situasi yang demikian umumnya anak-anak belum mampu mendapatkan penghasilan sendiri, sehingga akan mengalami kesulitan untuk melanjutkan pendidikannya. Untuk mengantisipasi kenyataan tersebut perusahaan-perusahaan asuransi jiwa umumnya telah menyediakan berbagai bentuk asuransi.

4. Kontribusi terhadap lembaga-lembaga sosial
Sebagian besar kebutuhan dana operasional lembaga-lembaga sosial menggantungkannya dari sumbangan dari para donateur. Dalam kondisi perekonomian yang penuh dengan ketidakpastian, mungkin akan mengakibatkan timbulnya keragu-raguan bagi para donateur untuk tetap memberikan sumbangan, karena ketakutan akan kehilangan harta kekayaan atau tidak terjaminnya hari tuanya. Tetapi bila para donateur tersebut telah mengasuransikan dirinya terhadap risiko-risiko yang dimaksud, maka keragu-raguan dan ketakutan tidak akan ada lagi, sehingga yang bersangkutan tetap dapat menjadi donateur yang setia.

5. Stimulasi menabung
Secara sempit dapat dikatakan bahwa asuransi adalah berubungan dengan masalah ganti rugi, tetapi mengingat dalam asuransi jiwa telah ditambahkan klausul dimana unsur penabungan lebih ditonjolkan, maka unsur ini tidak dapat diabaikan begitu saja dalam dalam membahas peranan asuransi. Disampingitu juga telah mulai diintrodusir penggabungan/pengombinasian program asuransi dengan tabungan, misalnya saja Taska (Tabungan Asuransi Berjangka) yang diselenggarakan oleh bank-bank milik pemerintah (BUMN).

6. Menyediakan dana yang dibutuhkan untuk investasi
Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh perusahaan asuransi telah berkembang sedemikian rupa, sehingga memegang peranan yang cukup penting dalam menyediakan dana yang dibutuhkan dalam berbagai kegiatan maupun perkembangan ekonomi. Di samping itu individu-individu yang tidak bersedia atau tidak mampu menangani sendiri pemanfaatan dana yang dimilikinya, ia dapat memanfaatkan dana tersebut dengan cara menyalurkan dananya dengan ikut serta dalam program asuransi, yang selanjutnya dana-dana tersebut oleh perusahaan asuransi disalurkan ke dalam berbagai benrtuk proyek investasi.

7. Melengkapi persyaratan kredit.
Apabila seseorang atau pengusaha tertentu membutuhkan dana dari bank/kreditur, maka biasanya kreditur akan mensyaratkan adanya asuransi bagi barang-barang yang dipakai sebagai jaminan atau ada asuransi untuk kreditnya itu sendiri.

8. Mempercepat laju pertumbuhan ekonomi
Kontrak-kontrak dalam asuransi umum/kerugian biasanya mennyaratkan agar premi dibayar dimuka dan dana tersebut menjadi millik peruahaan asuransi. Dalam perjalanan hidupnya perusahaan-perusahaan asuransi telah mampu mengakumulir dana dalam jumlah yang tidak kecil, dana-dana yang berhasil dikumpulkan tersebut biasanya ditanamkan di berbagai bidang usaha, baik mendapatkan sumber biaya untuk pengoperasian kegiatan asuransi maupun untuk menambah pendapatan. Jadi dana yang dihimpun oleh perusahaan asuransi merupakan salah satu sumber dana yang sangat berarti dalam mempercepat laju perkembangan ekonomi.

9. Mengurangi biaya modal
Dalam rangka untuk dapat menarik modal untuk membiayai bidang-bidang usaha yang berisiko besar, maka tingkat pendapat/return/bunga yang akan diberikan kepada pemilik modal harus tinggi pula. Bila risiko yang dihadapi itu dapat dialihkan/diasuransikan maka risiko yang dihadapi pemilik modal menjadi lebih kecil, maka pemilik modal akan bersedia menerima tingkat bunga (return) yang lebih rendah. Hal ini berarti biaya modal yang harus ditanggung oleh perusahaan (pemakai modal) akan lebih kecil.

10. Menjamin kestabilan Organisasi/ perusahaan
Apabila suatu perusahaan mengikutsertakan karyawannya dalam program asuransi, akan membawa dampak psikologis yang snagat berarti bagi karyawannya, yang selanjutnya akan berdampak positif terhadap perilaku mereka yang akan sangat menguntungkan bagi perusahaan, terutama yang berkaitan dengan masalah pengelolaan sumber daya manusia dan pencapaian efisiensi dan efektivitas kerja mereka.

11. Mendorong usaha pencegahan
Perusahaan asuransi melakukan usaha-usaha yang sifatnya mendorong perusahaan/individu yang menjadi tertanggung, untuk meningkatkan upaya-upaya pencegahan/melindungi diri dari bahaya-bahaya yang dapat menimbulkan kerugian.

12. Membantu upaya peningkatan konservasi kesehatan
Usaha lain yang dilakukan untuk menghindari/memperkecil penyebab timbulnya kerugian adalah kampanye-kampanye yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan asuransi jiwa kepada para pemegang polis khususnya maupun kepada masyarakat umumnya, yang berkaitan dengan upaya pencegahan kematian atau pemeliharaan kesehatan.
Dengan adanya perusahaan asuransi, dari jasa yang dihasilkan oleh perusahaan asuransi ataupun dari kegiatan asuransi lainnya manfaat asuransi tersebut akan sangat dirasakan oleh baik bagi pihak yang terlibat langsung dalam kegiatan asuransi maupun bagi yang secara tidak langung terlibat di dalamnya. Pada awalnya peranan asuransi hanya untuk memenuhi kebutuhan manusia yaitu kebutuhan akan rasa aman dari risiko dalam hal ini asuransi sangat dirasakan oleh pihak yang terlibat dalam kegiatan asuransi. Seiring dengan perkembangan usaha asuransi yang terkait dengan berbagai aspek, seperti aspek sosial dan ekonomi maka peranan asuransi asuransi pun semakin dirasakan oleh baik pihak yang terlibat langsung dalam kegiatan asuransi ataupun oleh pihak-pihak lain yang tidak terlibat langung dalam kegiatan asuransi.

3. Jenis Usaha Asuransi
Setiap usaha perasuransian dijalankan oleh perusahaan perasuransian. Terdapat berbagai jenis usaha perasuransian di Indonesia, yang meliputi perusahaan asuransi dan perusahaan penunjang asuransi. Jenis usaha perasuransian diatur dalam pasal 4 UU no. 2 tahun 1992 Perusahaan asuransi dikelompokkan menjadi tiga jenis dengan lingkup kegiatannya sebagai berikut:

  1. Perusahaan asuransi kerugian hanya dapat menyelenggarakan usaha dalam bidang asuransi kerugian termasuk reasuransi.
  2. Perusahaan asuransi jiwa hanya dapat menyelenggarakan usaha dalam bidang asuransi jiwa dan asuransi kesehatan, asuransi kecelakaan diri dan usaha anuitas, serta menjadi pendiri dan pengurus dana pensiun sesuai dengan peraturan perundang-undangan dana pensiun yang berlaku.
  3. Perusahaan reasuransi hanya menyelenggarakan asuransi ulang.


Berdasarkan ketentuan tersebut, maka setiap perusahaan asuransi hanya dapat menjalankan jenis usaha yang telah ditetapkan. Dengan demikian, tidak memungkinkan adanya suatu perusahaan asuransi yang menjalankan lebih dari satu jenis usaha asuransi, misalnya sekaligus menjalankan usaha asuransi kerugian dan asuransi jiwa, hanya jka suatu perusahaan bila ingin menjalankan jenis usaha yang lain perusahaan tersebut dapat mendirikan perusahaan asuransi baru.

4. Polis Asuransi
Dalam suatu perjanjian antara dua pihak yang mengandung unsur ekonomis memerlukan suatu bukti untuk mencegah suatu kemungkinan yang dapat merugikan satu sama lain antara pihak. Dalam asuransi bukti perjanjian tersebut dinamakan polis asuransi. Menurut ketentuan pasal 255 KUHD: Perjanjian asuransi harus dibuat secara tertulis dalam bentuk akta yang disebut polis, selanjutnya Peraturan Pemerintah pasal 19 ayat (1) no.73 tahun 1993 menyebutkan bahwa:

Polis atau bentuk perjanjian asuransi dengan nama apapun, berikut lampiran yang merupakan satu kesatuan dengannya tidak boleh mengandung kata-kata atau kalimat yang menimbulkan penafsiran yang berbeda mengenai risiko yang ditutup asuransinya, kewajiban penanggung dan kewajiban tertanggung, atau mempersulit tertanggung.

Sedangkan polis asuransi menurut Hasyimi Ali dalam bukunya yang berjudul Pengantar Asuransi, yaitu Polis asuransi adalah dokumen yang memuat kontrak antara pihak yang ditanggung dengan perusahaan asuransinya. (Hasyimi, 2002:110)

Berdasarkan ketentuan pasal dan pengertian tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa polis merupakan suatu bentuk perjanjian yang berfungsi sebagai alat bukti tertulis bahwa telah terjadi perjanjian asuransi antara tertanggung dengan penanggung.

Adapun isi polis menurut pasal 256 KUHD, setiap polis harus memuat syarat-syarat khusus seperti berikut ini:

  1. Hari dan tanggal pembuatan perjanjian asuransi.
  2. Nama tertanggung, untuk diri sendiri atau untuk pihak ketiga.
  3. Uraian yang jelas mengenai benda yang diasuransikan.
  4. Jumlah yang diasuransikan
  5. Bahaya-bahaya (envemen) yang ditanggung oleh penanggung
  6. Saat bahaya (envemen) mulai berjalan dan berakhir yang menjadi tanggungan penanggung.
  7. Premi asuransi.
  8. Umumnya semua keadaan yang perlu diketahui oleh penanggung dan segala janji-janji khusus yang diadakan antara para pihak.

Isi yang tercantum dalam polis asuransi harus jelas, tidak boleh mengandung kata-kata yang atau kalimat yang memungkinkan perbedaan interpretasi, sehingga mempersulit tertanggung dan penanggung dalam merealisasikan hak dan kewajiban mereka dalam pelaksanaan asuransi. Disamping itu polis juga membuat kesepakatan mengenai syarat-syarat khusus dan janji-janji khusus yang menjadi dasar pemenuhan hak dan kewajiban untuk mencapai tujuan asuransi.

5. Klaim Asuransi
Klaim dalam asuransi kerugian adalah tuntutan ganti rugi dari tertanggung terhadap penanggung atau perusahaan asuransi karena risiko yang telah dialihkan dari pihak tertanggung telah berubah menjadi kerugian, maksudnya adalah benda/objek yang diasuransikan mengalami peristiwa tertentu yang merugikan tertanggung

Klaim asuransi seperti yang dikemukakan oleh Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Akuntansi Indonesia, yaitu:

Klaim sehubungan dengan terjadinya peristwa kerugian terhadap suatu obyek asuransi yang dipertanggungkan meliputi klaim yang disetujui (settled claims), klaim dalam proses penyelesaian (claim settlement expense) diakui sebagai beban klaim. Hak subrogasi diakui sebagai pengurang beban klaim pada saat realisasi. (IAI, 1999: 28.2)

Bila timbul hak subrogasi, yaitu apabila tertanggung telah menerima ganti rugi dari penanggung sedangkan kerugian ditimbulkan akibat pihak ketiga, maka perusahaan asuransi sebagai penanggung berhak menuntut kepada pihak ke tiga yang dianggap telah menimbulkan kerugian tersebut, hal tersebut dianggap sebagai pengurang beban klaim bagi perusahaan yang telah mengganti kerugian kepada pihak penanggung.

Dalam asuransi, klaim yang akan dipenuhi atau diberikan ganti kerugiannya yaitu apabila klaim tersebut memenuhi syarat-syarat penutupan, yaitu apabila telah diperiksa dan telah terbukti terjadi kerugian dan berdasarkan kesepakatan yang tercantum pada polis atas benda atau obyek yang diasuransikan.

Bila telah terjadi kesepakatan antara penanggung dan tertanggung atau kepastian mengenai jumlah klaim yang akan dibayar, maka penanggung harus menyelesaikan pembayaran klaim tersebut paling lambat 30 (tiga puluh) hari kalender sejak terjadinya kesepakatan atau kepastian tersebut.

--- --- --- ---
Untuk mendapatkan Versi Lengkap dari Penelitian ini, silahkan kunjungi Halaman File Penelitian Ekonomi.
--- --- --- ---
Kamus Ekonomi:
A | B | C | D | E | F | G | H | I | J | K | L | M | N | O | P | Q | R | S | T | U | V | W | X | Y | Z |